Telepon Tengah Malam
Aku selalu menganggap telepon rumahku sudah usang. Bunyi deringnya seram, dan kadang terdengar seperti suara orang menangis, walau sebenarnya tidak. Tapi malam itu, telepon itu menjadi awal dari sesuatu yang tidak bisa kulupakan seumur hidup.
Aku pulang larut malam setelah lembur. Hujan deras membuat jalanan kosong, hanya suara tetesan air di genting rumah yang terdengar. Saat membuka pintu, aku langsung merasakan udara di dalam rumah lebih dingin dari biasanya. Lampu ruang tamu berkedip sebentar sebelum stabil. Aku menggigil, menepuk-nepuk lengan untuk mengusir rasa dingin itu, lalu menyalakan televisi agar rumah terasa “hidup”.
Tidak lama setelah aku duduk di sofa, telepon berdering. Suaranya pecah dan tajam, membuat jantungku berdegup. Aku mengangkatnya.
“Hallo?”
Hanya terdengar napas berat di seberang. Aku menelan ludah.
“Halo? Siapa ini?”
Tidak ada jawaban, hanya napas itu, panjang dan berat. Aku hampir menutup telepon ketika terdengar suara seorang wanita, lirih dan hampir seperti bisikan:
“Kau… melihatku…”
Aku tertawa gugup. “Siapa yang bicara ini? Ini bukan lucu, tahu!”
Telepon terputus. Aku mencoba menenangkan diri. Pasti ada orang iseng, pikirku. Tapi beberapa menit kemudian, telepon berdering lagi. Kali ini, suara yang terdengar bukan bisikan, tapi suara anak kecil, menangis.
“Bantu… aku…”
Aku berdiri, tanganku gemetar. Hujan di luar semakin deras, dan suasana rumah terasa semakin berat, seperti di dalam air yang gelap dan dingin. Aku mencoba menyalakan lampu lantai atas, tapi listrik padam. Rumahku menjadi gelap gulita, hanya diterangi lampu jalan di luar.
Aku mengambil senter dari laci, langkahku perlahan menuju telepon yang masih berdering di meja. Ketika aku mengangkatnya lagi, suara itu terdengar lebih dekat, seolah orang itu berdiri di belakangku. Aku menoleh—tidak ada siapa pun.
“Kau… lihatku…”
Suaranya kini lebih jelas, lebih menyeramkan. Aku merasa bulu kudukku meremang. Telepon terlepas dari tanganku dan jatuh ke lantai. Aku menunduk, mengambilnya, dan saat itu, terdengar suara langkah di lantai atas. Lambat, berat, dan ritmis.
Aku tahu tidak ada orang di rumahku selain aku sendiri. Semua jendela terkunci, pintu juga. Nafasku tercekat, tapi rasa ingin tahu membuatku menanjak ke tangga. Setiap langkahku bergema di rumah yang sunyi. Aku tiba di lantai atas. Lantai kayu itu berderit, tapi tidak ada apa pun.
Ketika aku menoleh, aku melihat sesuatu yang membuatku menjerit pelan. Di ujung lorong, ada bayangan seorang anak kecil berdiri di depan kamar tidurku, menatap ke arahku. Rambutnya panjang, basah, menempel di wajahnya. Matanya hitam, kosong, tapi seolah menatap langsung ke jiwaku.
Sebelum aku bisa berkata apa-apa, telepon di lantai bawah berdering lagi. Suara itu terdengar di telingaku, bahkan aku belum menuruni tangga. Aku tahu ini tidak mungkin—telepon itu harusnya di lantai bawah, tapi suara itu terdengar di sekitarku.
“Aku di sini…”
Aku berbalik dan bayangan itu lenyap begitu saja. Napasku terengah, dan aku menyadari satu hal: rumah ini tidak hanya kosong. Ada sesuatu—atau seseorang—yang memperhatikanku. Aku menuruni tangga dengan cepat, tetapi setiap langkah terasa seperti ditarik ke belakang.
Telepon tetap berdering, dan aku akhirnya mengangkatnya. Kali ini, suara di seberang terdengar jelas, hampir berbisik ke telingaku, meski aku menahan telepon di jarak tertentu:
“Kau tidak boleh meninggalkan rumah ini… aku menunggumu.”
Aku menutup telepon dan berlari ke pintu depan. Tapi hujan di luar semakin deras, dan di jalan, ada genangan air hitam yang berkilau aneh. Seperti… darah. Aku menahan diri untuk tidak melihat terlalu lama. Saat aku menoleh ke arah rumah, lampu di lantai atas berkedip cepat, dan bayangan anak itu muncul di jendela, tersenyum.
Aku kembali masuk rumah karena rasa takut yang tak terkendali, dan entah mengapa, aku merasa harus menghadapi hal ini. Aku mengambil kamera dan merekam seluruh rumah, berharap bisa menangkap sesuatu yang logis.
Semuanya terlihat normal di layar kamera… sampai aku memutar rekaman malam itu. Bayangan anak itu muncul, berjalan di lorong, dan saat menatap kamera, bibirnya bergerak seperti berkata:
“Kau melihatku…”
Aku menjerit. Tiba-tiba, suara telepon terdengar lagi, tapi kali ini bukan dari telepon rumah, melainkan dari ponselku di saku. Aku merogoh saku dengan tangan gemetar, dan layar ponsel menampilkan nomor yang sama dengan telepon rumahku. Dengan suara yang kini terdengar sangat dekat, seolah ada di ruangan yang sama denganku:
“Kau… tidak bisa pergi…”
Aku jatuh terduduk. Semua lampu padam. Hujan yang menimpa atap terdengar seperti rintihan yang menakutkan. Aku tidak berani bergerak. Bayangan anak itu kini muncul di setiap sudut ruangan, seakan mengelilingiku, menatapku dengan mata hitam yang menembus jiwa.
Aku tidak tahu berapa lama aku berada dalam kegelapan itu. Ketika fajar akhirnya muncul, rumahku terlihat normal kembali. Telepon berhenti berdering, listrik kembali menyala, dan bayangan itu hilang. Tapi aku tahu, sesuatu di rumahku masih menungguku.
Sejak hari itu, aku tidak pernah mengangkat telepon rumah lagi. Setiap malam, aku bisa mendengar bisikan lembut, dari mana pun asalnya, memanggil namaku. Aku belajar satu hal: ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa kita pahami, yang tidak bisa kita lihat, tapi selalu ada, menunggu saat kita lengah.
Dan rumah itu… masih menunggu.

0 Response to "Telepon Tengah Malam"
Posting Komentar