Garis Merah di Cermin
Aku selalu menyukai rumah tua. Ada sesuatu tentang kayu yang berderit, cat yang mengelupas, dan aroma lembap yang seolah membawa sejarah masa lalu, yang membuatku merasa hidup di dunia lain. Ketika aku pindah ke rumah ini, semuanya terasa sempurna. Setidaknya, sampai malam itu.
Malam pertama, aku menatap cermin besar di kamar tidurku. Cermin itu diwariskan dari pemilik sebelumnya, terbuat dari kayu gelap dengan ukiran rumit di sekelilingnya. Awalnya aku mengagumi detail ukirannya, tapi kemudian aku menyadari sesuatu yang aneh. Setiap kali aku menatap cermin itu, bayanganku terlihat sedikit berbeda. Lebih pucat. Lebih… kosong.
Aku menggeleng, mencoba mengusir rasa takut yang tiba-tiba muncul. Pasti hanya kelelahan. Namun, keesokan harinya, saat membersihkan debu di kamar, aku melihat garis merah tipis yang muncul di permukaan cermin, seperti darah yang belum kering. Aku mengusapnya, tapi garis itu tetap ada.
Malam itu, suara ketukan terdengar di jendela. Perlahan, aku mendekat, menyalakan lampu senter. Hanya hujan deras yang menimpa genting rumah. Tapi langkah kaki terdengar di lantai atas. Aku tinggal sendiri di rumah ini. Tidak ada siapa pun.
Ketika aku naik ke lantai atas, ketukan itu berhenti. Lorong gelap, hanya diterangi lampu jalan dari luar. Di ujung lorong, cermin itu berdiri, menatapku. Dan di permukaannya, garis merah telah membesar, membentuk pola seperti tangan yang menempel.
Aku menelan ludah. Tidak mungkin. Aku menepuk-nepuk wajahku, mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya refleksi aneh. Tapi kemudian, bayangan muncul di cermin. Bayangan seorang perempuan, rambutnya panjang dan basah, matanya menatap kosong ke arahku.
Aku ingin berlari, tapi kakiku membeku. Perempuan itu tersenyum, senyum yang membuat darahku mengental. Tanpa peringatan, bayangan itu melangkah keluar dari cermin, tubuhnya seperti kabut merah yang menyelimuti ruangan.
“Aku menunggumu,” bisiknya, suara lembut tapi menusuk.
Aku menjerit, dan cermin itu retak, garis merah semakin melebar hingga memenuhi seluruh permukaannya. Aku menutup mata, dan ketika membukanya, bayangan itu sudah berada di sampingku, menyentuh bahuku. Dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Aku berlari ke tangga, menuruni lantai dua, tapi rumah terasa berbeda. Lorong yang biasanya lurus kini berbelok aneh, dan aku seperti tersesat. Suara tawa perempuan itu mengikuti langkahku, terdengar di semua sudut rumah.
Aku mencoba memukulnya, tapi tanganku menembus tubuhnya. Hanya udara dingin yang menyelimuti. Aku sadar, makhluk itu tidak nyata dalam dunia fisik—tapi nyata di dunia ini. Di rumahku. Di pikiranku.
Pagi berikutnya, aku menemukan cermin itu sudah kembali normal, garis merah hilang. Tapi aku tidak berani menatapnya. Setiap malam setelah itu, aku selalu mendengar suara ketukan dan bisikan di kamar itu. Kadang, aku merasa ada tangan yang menempel di bahuku saat aku tidur.
Aku mencari informasi tentang rumah ini. Ternyata, pemilik sebelumnya adalah seorang wanita yang tewas secara misterius di kamar tidur itu. Ada rumor, dia mencoba membuka portal ke dunia lain menggunakan cermin itu. Tapi sesuatu keluar dari cermin dan membunuhnya. Sejak saat itu, cermin itu berpindah tangan dari pemilik ke pemilik, meninggalkan jejak ketakutan di setiap rumahnya.
Aku mencoba menjual rumah ini, tapi tidak ada yang mau membelinya. Semua yang datang merasa tidak nyaman, bahkan menolak untuk tidur semalam. Dan aku menyadari satu hal mengerikan: aku tidak bisa pergi.
Setiap malam, garis merah muncul lagi. Tidak selalu sama, tapi selalu membentuk pola yang familiar—seperti tangan yang menunggu untuk merenggutku. Kadang, aku melihat bayangan perempuan itu di sudut mataku, menatapku dengan senyum penuh kemarahan dan kesedihan.
Aku tidak bisa tidur. Aku tidak bisa keluar. Bahkan menatap cermin lain di rumah ini membuatku merasakan kehadirannya. Aku tahu, makhluk itu bukan hanya hantu biasa. Ia adalah bagian dari rumah ini, bagian dari cermin, dan bagian dari hidupku sekarang.
Hari ini, aku duduk di kamar, menatap cermin itu lagi. Garis merah mulai muncul perlahan, dan aku tahu, malam ini, ia akan datang lebih dekat dari sebelumnya. Aku tidak bisa melawan. Aku hanya bisa menunggu, seperti pemilik sebelumnya, berharap suatu saat makhluk itu membiarkanku pergi.
Tapi aku tahu, itu tidak akan pernah terjadi.
Aku mendengar ketukan di belakangku.

0 Response to "Garis Merah di Cermin"
Posting Komentar