Jendela Kamar Nomor 7

 

Aku tidak pernah percaya bahwa rumah bisa menyimpan dendam. Sampai aku pindah ke rumah kos di ujung Jalan Mangunsari itu. Rumah besar tua dengan cat yang mulai mengelupas, papan namanya nyaris tak terbaca: Kost Putri Melati, meski penghuninya sudah campur.

Aku menyewa kamar nomor tujuh di lantai dua. Pemilik kos, seorang perempuan paruh baya bernama Bu Rani, menyerahkan kuncinya tanpa banyak bicara. Hanya satu pesan yang diulangnya dua kali sebelum ia pergi:

“Kalau malam, jangan buka jendela.”

Nada suaranya tenang, tapi matanya menatapku lama, seolah ingin memastikan aku benar-benar paham.

Awalnya aku menertawakannya. Apa salahnya membuka jendela? Toh udara di kamar itu pengap. Tapi malam pertama di sana membuatku berpikir ulang.

Jam hampir menunjukkan pukul dua belas ketika aku terbangun karena suara ketukan. Lembut, tapi berulang. Tok… tok… tok…

Awalnya kupikir itu pintu kamar tetangga. Tapi suara itu datang dari arah jendela. Dari balik tirai tipis yang berkibar pelan oleh angin malam.

Aku mendekat dengan ragu, setengah mengantuk, setengah penasaran. Saat kutarik sedikit tirainya, jantungku langsung membeku.

Di luar, ada wajah menempel di kaca.

Bukan wajah manusia. Pucat, nyaris transparan, dengan mata yang hitam seluruhnya. Bibirnya bergerak, tapi tak ada suara keluar. Hanya embun dingin menempel di kaca, membentuk pola samar seperti tulisan.

Aku mundur terburu-buru, hampir terjatuh. Tapi ketika kupandangi lagi, wajah itu sudah menghilang.

Keesokan paginya, aku hampir yakin itu cuma halusinasi karena lelah pindahan. Tapi saat kuusap embun di jendela, aku melihatnya jelas: tulisan kecil dari uap air—seperti digambar dengan ujung jari:

“Buka.”

Aku tidak menceritakan apa pun pada Bu Rani. Tapi sepanjang hari, aku memperhatikan kamar-kamar lain. Dari luar, hanya kamarku yang tirainya selalu tertutup rapat. Kamar nomor delapan bahkan kosong. Pintu kayunya terkunci dari luar, dan dari sela pintu tampak debu menumpuk.

Malam berikutnya, aku mencoba tidur lebih cepat. Tapi suara itu datang lagi. Kali ini lebih keras. Tok… tok… tok… tok… — ritmenya seperti seseorang yang tak sabar.

Aku menarik selimut sampai ke dada.

“Pergi…” bisikku pada diri sendiri. “Cuma suara pohon… atau tikus.”

Tapi kemudian, sesuatu terdengar dari arah jendela. Suara napas. Pelan. Dekat sekali, seperti seseorang menempelkan bibirnya di kaca dan bernapas panjang-panjang.

Aku menutup telinga. Namun, dalam keheningan, aku tetap bisa mendengarnya. Napas itu berubah menjadi suara berbisik lirih:

“Aku… dingin…”

Aku menjerit. Lari keluar kamar tanpa sempat memakai sandal. Lorong lantai dua kosong, tapi aku mendengar pintu nomor delapan bergetar pelan, seperti seseorang di dalamnya mencoba membukanya.

Bu Rani muncul dari bawah, mengenakan daster dan membawa senter.

“Kamu buka jendela?” tanyanya cepat.

“Tidak! Saya bahkan tidak berani mendekat!”

Tatapannya tajam, lalu melembut. Ia menarik napas panjang.

“Kamar itu… dulunya punya anak perempuan. Namanya Melati. Anak saya.”

Aku terdiam.

“Dia meninggal di kamar itu,” lanjutnya. “Tapi sebelum meninggal, dia… melompat dari jendela kamar nomor tujuh.”

Dunia seperti berhenti berputar.

“Itu sebabnya saya bilang: jangan pernah buka jendela malam-malam.”

Setelah malam itu, aku tak bisa tidur tenang lagi. Aku selalu menyalakan lampu, tapi tetap merasakan kehadirannya. Setiap kali aku menatap kaca jendela, seolah ada bayangan samar berdiri di sisi luar — hanya terlihat kalau aku memicingkan mata.

Suatu malam, rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Aku berpikir, mungkin semua ini hanya sugesti. Aku ingin membuktikan bahwa tidak ada apa-apa di luar sana. Maka aku berdiri di depan jendela, menatap refleksiku sendiri di kaca.

“Kamu cuma bayangan,” kataku, mencoba menantang sesuatu yang tak bisa kulihat jelas.

Tapi refleksi itu — aku sendiri — tiba-tiba tidak bergerak bersamaan denganku.

Aku mengangkat tangan kanan, tapi bayanganku mengangkat tangan kiri. Aku mundur setapak, dan sosok di kaca malah tersenyum. Bibirnya membiru, matanya kosong, dan di bibirnya muncul darah yang menetes pelan ke bawah.

Suara bisikan kembali terdengar:

“Aku… masih di sini…”

Kaca jendela bergetar. Lalu pecah.

Aku tak sempat menjerit. Sesuatu menarikku kuat ke depan. Aku hanya sempat melihat langit malam yang hitam pekat sebelum tubuhku membentur lantai.

***

Aku terbangun di tempat tidur, tapi semuanya aneh. Ruangan itu serupa kamarku, tapi terasa berbeda. Udara lebih dingin, warna cat dindingnya pudar, dan suara kehidupan di luar tak terdengar sama sekali.

Aku berdiri, melangkah ke arah jendela yang kini sudah utuh kembali. Di luar, kulihat halaman kos yang kosong — tak ada kendaraan, tak ada cahaya dari rumah seberang. Semuanya sunyi.

Lalu aku melihat seseorang berdiri di luar, menatap ke arahku dari halaman bawah. Seorang perempuan berpakaian daster putih, rambutnya terurai panjang. Ia menatapku sambil mengusap kaca jendela kamar nomor tujuh… dari luar.

Ketika aku memanggilnya, dia tidak menjawab. Tapi aku baru sadar sesuatu: dari arahku, aku bisa melihat seluruh tubuhnya. Tapi dari arah bayanganku di kaca… aku tidak melihat diriku sendiri.

Aku mencoba membuka pintu kamar, tapi gagangnya tidak bergerak. Aku menendangnya keras, namun pintu itu tak bergeming. Di luar, Bu Rani berdiri menatap ke arahku — matanya basah, wajahnya pucat.

“Aku sudah bilang, jangan buka jendela…”

Suara itu datang dari luar, tapi juga bergema di dalam kepalaku.

Baru saat itu aku sadar: aku tidak lagi berada di dunia yang sama.

Sekarang, setiap malam, aku mengetuk dari dalam kaca — berharap seseorang di luar akan mendengar. Tapi mereka hanya menatapku, takut, lalu menutup tirai rapat-rapat.

Dan aku menulis ini… dengan ujung jariku, di atas kaca jendela yang beku, agar kau yang membaca tahu:
jika suatu malam kau menginap di rumah tua di Jalan Mangunsari, jangan buka jendela kamar nomor tujuh.

Karena aku masih di sini.
Menunggu udara.
Menunggu seseorang yang cukup bodoh untuk membuka jendela lagi.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jendela Kamar Nomor 7"

Posting Komentar