Suara dari Lemari
Aku baru pindah ke apartemen lama di pinggiran kota. Apartemen itu murah, tapi terasa sepi dan dingin. Pemiliknya, seorang wanita tua bernama Bu Sari, hanya berkata satu hal saat menyerahkan kunci:
“Jangan buka lemari di kamar utama setelah jam sepuluh malam.”
Aku tertawa sendiri. Seolah-olah aku akan mempercayai larangan aneh seperti itu. Tapi sejak malam pertama, aku mulai merasa ada sesuatu yang salah.
Kamar utama itu luas tapi gelap. Lemari kayu besar berdiri di sudut. Awalnya aku mengabaikannya, tapi malam pertama aku mendengar suara ketukan tipis dari arah lemari. Ketukan itu perlahan, teratur, seperti seseorang mengetuk pintu dari dalam.
Aku membeku di tempat tidur, mencoba meyakinkan diri ini hanya suara kayu yang menyusut. Tapi ketukan itu tidak berhenti. Suara itu berubah menjadi bisikan pelan, tidak jelas tapi terdengar menyeramkan.
“Buka aku…”
Aku menutup mata. Suara itu terdengar seperti memanggil namaku. Jantungku berdetak kencang, tapi rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Aku menyalakan senter dan mendekati lemari. Pintu lemari tertutup rapat. Aku menoleh ke sekitar kamar. Tidak ada siapa pun.
Aku menempelkan tangan di pintu lemari. Suara itu berhenti seketika. Aku menarik napas panjang. Kemudian aku mendengar sesuatu yang lebih mengerikan: dari dalam lemari terdengar suara napas berat dan langkah kecil di lantai kayu.
Malam berikutnya, aku tidak bisa tidur. Suara dari lemari semakin sering terdengar, terkadang seperti seseorang menatapku dari dalam kegelapan. Aku mencoba mengabaikannya, tapi rasa takut semakin menekan.
Aku menanyakan pada Bu Sari tentang lemari itu.
“Lemari itu… dulu milik seorang anak kecil. Anak itu meninggal di kamar ini,” katanya pelan. “Setiap malam, orang yang tinggal di sini akan mendengar suara dari lemari, terutama jika mereka penasaran.”
Aku menelan ludah. Cerita itu terlalu menyeramkan. Tapi rasa ingin tahuku terlalu besar. Malam itu, aku memutuskan untuk membuka lemari.
Tanganku gemetar saat memutar kenop kayu tua. Pintu terbuka perlahan. Di dalam lemari, tidak ada yang terlihat. Hanya kegelapan pekat dan udara dingin menusuk kulit. Aku menyalakan senter. Di bagian paling bawah lemari, aku melihat sepasang mata hitam yang menatapku dari kegelapan.
Aku menjerit. Mata itu menghilang begitu saja, meninggalkan kegelapan. Tapi suara itu muncul lagi, lebih jelas, lebih menyeramkan.
“Ayo bermain denganku…”
Aku menutup pintu lemari secepat mungkin. Tapi rasa dingin tidak hilang. Suara itu terus ada di kepalaku, memanggil namaku, menuntunku untuk membuka lemari lagi. Aku mencoba tidur, tapi setiap kali menutup mata, aku melihat bayangan anak kecil di lemari, tersenyum tipis dan menatapku.
Seminggu kemudian, aku mulai melihat hal-hal aneh siang hari. Bayangan di lemari terkadang muncul di sudut kamar ketika aku menoleh. Pakaian di lemari kadang bergerak sendiri. Aku mencoba mengusirnya dengan doa, tapi suara itu semakin keras.
Malam itu, aku mendengar langkah kaki dari dalam lemari. Kali ini langkah itu mendekat ke tempat tidurku. Aku menjerit dan menarik selimut menutupi kepala. Suara itu berhenti sebentar, tapi kemudian terdengar lagi, kali ini di samping tempat tidur.
Aku membuka mata perlahan. Di sana, berdiri seorang anak kecil, wajah pucat, mata hitam, mulut tersenyum tipis. Tangannya menunjuk ke arah lemari. Aku ingin berlari, tapi tubuhku kaku, tidak bisa bergerak.
“Kamu harus tinggal di sini bersamaku…”
Suara itu menembus kepalaku, menguasai pikiranku. Aku sadar satu hal mengerikan: anak itu bukan sekadar roh. Ia mengikat siapa pun yang tinggal di kamar ini dengan lemari itu. Setiap malam, aku menjadi temannya, tidak bisa meninggalkan kamar.
Aku mencoba pindah kamar. Tapi setiap kali aku tidur di kamar lain, aku masih mendengar suara ketukan, bisikan, dan langkah kaki dari lemari yang sama, seakan bayangan itu mengikuti dan menunggu aku kembali.
Aku tahu, suatu hari, aku akan membuka lemari itu lagi. Dan kali itu, aku tidak yakin apakah aku akan keluar.

0 Response to " Suara dari Lemari"
Posting Komentar