Rak Terakhir
Perpustakaan sekolah selalu menjadi tempat favoritku untuk mengerjakan tugas. Tapi ada satu sudut yang selalu membuatku merinding—rak buku tua di pojok belakang. Bau kertas lama dan debu memenuhi udara, dan lampu di sana selalu redup, seolah menahan cahaya.
Hari itu, aku terlambat datang. Hanya aku yang tersisa di perpustakaan, di antara deretan buku yang hampir tak tersentuh. Aku menaruh tas dan berjalan menuju rak terakhir, tempat buku-buku sejarah dan jurnal lama tersimpan. Saat itu, aku melihat selembar kertas jatuh di lantai.
Tulisan di kertas itu pudar, tapi cukup jelas:
"Jangan ikut aku..."
Aku menunduk, jantungku berdetak kencang. Hawa dingin tiba-tiba menusuk punggungku. Aku menatap sekeliling, tapi hanya rak-rak buku tua yang sunyi. Saat aku menatap rak terakhir, aku melihat sosok seorang gadis. Rambutnya basah, wajahnya pucat, dan matanya kosong. Dia berdiri di antara buku-buku tua, menatapku tanpa berkedip.
Gadis itu melangkah mendekat perlahan. Suara pelan terdengar di telingaku, seperti bisikan dari kertas tua itu:
"Tolong… jangan tinggalkan aku..."
Aku menelan ludah dan mencoba melangkah mundur, tapi kakiku terasa berat, seolah terikat oleh udara dingin di sekitarku. Sosok itu mengulurkan tangan, dan suara itu bergema di seluruh perpustakaan:
"Bersama… selamanya..."
Aku menjerit dan menutup mata, berharap semua ini hanyalah mimpi. Ketika aku membuka mata, aku berada di lantai perpustakaan, di samping rak terakhir, dengan catatan tua itu di tanganku. Sosok gadis itu sudah hilang.
Tapi ada sesuatu yang lebih menakutkan: tulisan di catatan itu persis sama dengan tulisan di kalender harian milikku… yang aku tulis beberapa hari sebelumnya. Hatiku berdegup kencang. Seperti ada peringatan yang ditinggalkan untukku sendiri, dari seseorang—atau sesuatu—yang tidak bisa aku lihat.
Sejak malam itu, aku selalu mendengar langkah kecil di perpustakaan saat sendirian. Suara buku yang jatuh sendiri, bisikan samar yang memanggil namaku. Rak terakhir seolah menunggu aku. Dan aku tahu, suatu hari, gadis itu akan kembali. Dan aku mungkin tidak akan pernah bisa pergi.

0 Response to "Rak Terakhir"
Posting Komentar