Suara dari Dalam Lemari
Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai takut pada lemari di kamar ini.
Awalnya, aku pikir hanya sugesti. Aku baru pindah ke rumah kontrakan kecil di pinggir kota Semarang — rumah tua yang disewakan murah oleh seorang pria bernama Pak Darto. Rumah itu hanya punya dua kamar, satu dapur, dan ruang tamu yang temaram. Tapi kamar belakang, tempat aku tidur, punya sesuatu yang aneh: sebuah lemari kayu besar yang menempel di dinding, tidak bisa dipindah, tidak bisa dibuka sepenuhnya.
“Sudah dari dulu begitu,” kata Pak Darto saat menyerahkan kunci. “Lemari itu bagian dari tembok. Jangan dibongkar, ya.”
Aku mengangguk saja. Tidak terpikir apa pun saat itu — aku hanya butuh tempat tinggal yang murah untuk beberapa bulan ke depan.
Tapi sejak malam pertama, aku mendengar suara dari dalam lemari itu.
Awalnya samar — seperti goresan kuku di kayu. Srek… srek… srek… Kadang seperti sesuatu yang bergeser pelan di balik papan. Aku mencoba menenangkan diri: mungkin tikus, atau kayunya lapuk dimakan rayap.
Namun, tengah malam berikutnya, aku mendengar sesuatu yang lebih jelas. Suara seperti bisikan, sangat dekat, datang dari balik pintu lemari.
“Tolong…”
Suaranya lemah, nyaris tak terdengar. Aku langsung duduk di tempat tidur, jantung berdebar keras.
“Halo?” tanyaku dengan suara serak.
Hening. Lalu, lagi-lagi, bisikan itu terdengar.
“Tolong… aku kedinginan…”
Aku menatap pintu lemari yang sedikit terbuka di bagian bawah. Dari celah itu keluar embusan udara dingin, seperti angin dari ruang bawah tanah. Aku meraih senter ponsel, mendekat perlahan, dan menyorot celah itu.
Tak ada apa-apa — hanya gelap pekat. Tapi ada bau aneh keluar dari sana: lembab, anyir, seperti kain basah yang disimpan terlalu lama.
Aku menutup pintunya, mencoba tidak memikirkannya lagi. Tapi malam-malam berikutnya, suara itu selalu datang — kadang menangis, kadang hanya bernafas berat.
Dan setiap kali aku memerhatikannya, pegangan pintu lemari itu selalu berubah posisi, seolah ada yang memainkannya dari dalam.
Tiga hari kemudian, aku akhirnya bertanya pada tetangga sebelah, seorang nenek berusia tujuh puluhan bernama Bu Wirah. Ia sudah tinggal di kompleks itu puluhan tahun.
“Rumah kontrakan yang di pojokan?” tanyanya. “Itu rumah keluarga Surya, dulu.”
Aku mengangguk.
“Kamu tahu… dulu pernah ada anak kecil yang hilang di rumah itu.”
“Hilang?”
“Iya. Perempuan. Namanya Mira. Umurnya tujuh tahun waktu itu.”
Aku menelan ludah.
“Polisi nggak pernah nemu jasadnya,” lanjut Bu Wirah. “Ibunya katanya sakit jiwa setelah itu. Dia bilang anaknya… disembunyikan di dalam rumah.”
Aku pulang dengan kepala penuh bayangan buruk. Malamnya, aku menatap lemari itu lama sekali. Aku tahu aku seharusnya tidak membuka, tapi rasa penasaran mulai menggigit pikiranku.
Akhirnya, lewat tengah malam, aku mengambil obeng dan mencoba mencungkil engsel pintunya.
Suara besinya melengking pelan. Aku menahan napas, peluh dingin di punggung. Saat pintu terbuka sedikit lebih lebar, udara dingin menyembur keluar, menusuk kulitku seperti kabut dari lemari es.
Aku menyorot senter ke dalam.
Gelap. Tapi di dalamnya, kulihat lapisan kain putih menggantung seperti tirai, menutupi dinding belakang. Aku menyibakkannya perlahan.
Dan aku membeku.
Di balik kain itu, ternyata bukan dinding. Ada lorong sempit, gelap, menuju ruang kecil seukuran peti.
Di dalamnya, tergolek sebuah boneka lusuh dengan gaun putih, rambutnya kusut, dan sebelah matanya hilang. Boneka itu duduk tegak, menatap ke arahku. Di dadanya tertempel kalung kecil bertuliskan huruf: MIRA.
Aku langsung menutup lemari itu dengan gemetar.
Malam itu aku tidak tidur sama sekali. Tapi meski aku berusaha tidak memperhatikannya, suara dari dalam lemari semakin jelas — sekarang bukan hanya bisikan. Ada suara langkah kecil, seperti kaki anak kecil yang berjalan di balik papan. Kadang suara itu diikuti tawa pelan yang menyelinap ke telingaku.
“Kamu udah temuin aku…”
Aku melompat dari tempat tidur. Suara itu jelas datang dari belakangku, bukan dari dalam lemari lagi.
Aku berbalik cepat, menyorotkan senter ke seluruh ruangan — kosong. Tapi di cermin meja rias, kulihat sesuatu bergerak cepat di belakangku. Bayangan kecil berlari melintas di refleksi, tapi ketika kutoleh, tak ada apa pun.
Aku mulai kehilangan akal.
Keesokan harinya, aku mencari Pak Darto. Aku ceritakan semuanya — suara, boneka, lorong di belakang lemari. Tapi wajahnya datar, tanpa ekspresi.
“Jangan utak-atik lemari itu,” katanya. “Sudah saya bilang dari awal.”
“Pak, di dalamnya ada sesuatu! Boneka, ruangan kecil—”
“Itu bukan boneka,” potongnya pelan. “Itu… tempat dia dulu dikubur.”
Aku terpaku.
“Ayahnya yang melakukannya,” lanjutnya. “Waktu polisi datang, dia sudah bunuh diri. Tapi waktu kami bongkar, lemari itu sudah ditutup lagi, dan kami tidak berani buka.”
Aku ingin pergi saat itu juga, tapi entah kenapa, aku tidak bisa. Rumah itu seolah menahanku — setiap langkah keluar dari pintu terasa berat, seperti ditarik kembali oleh sesuatu yang tak terlihat.
Malamnya, aku mendengar tangisan itu lagi. Kali ini, suara anak kecil bercampur dengan bisikan pria dewasa.
“Kamu janji nggak akan buka lagi…”
“Aku mau keluar, Ayah…”
Tangisan berubah menjadi teriakan. Pintu lemari bergetar keras, lalu terbuka dengan sendirinya.
Dari dalam, kabut putih keluar perlahan. Dan di tengahnya, terlihat sosok anak kecil bergaun lusuh, kulitnya pucat, matanya kosong.
Dia melangkah ke arahku.
Aku berlari ke pintu, tapi terkunci. Aku menendangnya berulang-ulang sampai kayunya retak. Saat akhirnya berhasil kubuka, hawa dingin dari belakang menyelimuti tubuhku.
“Jangan tinggalkan aku lagi…”
Suara kecil itu memecah keheningan. Tanganku berhenti di gagang pintu. Aku menoleh.
Sosok anak itu berdiri di depan lemari, boneka Mira dalam dekapannya. Ia tersenyum.
“Sekarang giliranku keluar.”
Sebelum aku bisa bergerak, dia melangkah cepat ke arahku — dan dalam sekejap, gelap.
Pagi berikutnya, warga menemukan pintu rumah terbuka. Di kamar belakang, hanya ada satu lemari besar yang kini terkunci rapat dari dalam. Tak ada tanda-tanda penghuni baru itu — hanya satu boneka lusuh yang tergeletak di lantai, menatap kosong ke arah jendela.
Kalung di dadanya kini bertuliskan nama lain.
Bukan MIRA.
Melainkan — namaku sendiri.

0 Response to "Suara dari Dalam Lemari"
Posting Komentar