Lampu Kamar Kos yang Mati

 

Aku selalu percaya pada hal-hal logis, jadi ketika aku pindah ke kos baru di pinggir kota, aku tidak terlalu peduli dengan cerita-cerita seram tentang penghuni sebelumnya. Kamar kosku di lantai dua cukup luas, tapi ada satu hal yang membuatku sedikit tidak nyaman: lampu kamar.

Lampu itu selalu mati sendiri di malam hari. Aku awalnya mengira ini karena listrik yang tua atau kabel yang longgar. Tapi malam pertama, ketika aku hendak tidur, lampu menyala sendiri selama beberapa detik, lalu mati lagi. Dalam kegelapan, aku mendengar suara langkah di dalam kamar, padahal aku sendirian.

Aku menyalakan senter dari ponsel, menelusuri seluruh kamar, tapi tidak ada siapa pun. Napasku memburu, tapi aku mencoba menenangkan diri. Aku menertawakan diriku sendiri karena ketakutan yang berlebihan.


Malam kedua, hal itu terjadi lagi. Kali ini lebih lama. Lampu kamar menyala beberapa kali, memancarkan cahaya pucat sebelum mati. Aku mendengar suara bisikan halus, seperti seseorang bernafas di telingaku.

“Hei… kamu di sini sendiri.”

Aku menoleh ke sekeliling kamar, tapi tidak ada siapa pun. Jantungku berdetak sangat cepat. Aku mencoba mengingat kembali cerita penghuni sebelumnya. Mereka bilang lampu di kamar itu selalu mati dan menyala sendiri, dan ada yang mengaku pernah melihat bayangan gelap bergerak di dinding.

Aku menutup mata dan mencoba tidur, tapi rasa takut terlalu besar. Saat aku membuka mata, aku melihat bayangan samar berdiri di pojok kamar. Sosok itu tinggi, hitam pekat, tanpa wajah. Aku menjerit, tapi suaraku seperti tertelan gelap. Sosok itu bergerak perlahan mendekat ke tempat tidurku.

Aku melompat dari tempat tidur dan menyalakan lampu meja, tapi lampu itu mati begitu saja. Sosok itu masih di sana, semakin dekat. Aku ingin berlari ke pintu, tapi tubuhku terasa kaku, seolah tidak bisa bergerak.

“Jangan pergi…”

Suara itu terdengar di kepalaku, bukan dari mulut sosok itu. Aku menutup mata, berdoa, dan ketika membuka kembali, sosok itu menghilang. Kamar terasa dingin, udara berat menekan dadaku.


Hari berikutnya, aku mencoba berbicara pada pemilik kos, Pak Jaya.

“Lampu kamar sering mati sendiri,” kataku.

Pak Jaya menatapku serius.

“Ya, itu memang terjadi. Kamar itu punya… penghuni lama. Banyak yang pindah karena tidak tahan.”

Aku menelan ludah. Aku mulai merasa ketakutanku bukan sekadar imajinasi. Malam itu, lampu kembali mati. Aku duduk di tempat tidur, menunggu sesuatu terjadi.

Sekitar tengah malam, lampu menyala sendiri. Kali ini lebih terang, lebih tajam. Dan di dinding, aku melihat tulisan dengan cahaya yang seolah muncul dari bayangan:

“Aku melihatmu.”

Aku menjerit. Napasku tersengal. Sosok itu muncul lagi, lebih jelas, mendekat dengan gerakan lambat tapi pasti. Aku mencoba menutup mata, tapi bayangan itu tetap ada. Aku merasa terperangkap dalam kamar sendiri, dan tidak ada jalan keluar.

Aku mencoba mengusirnya dengan doa dan kata-kata keras. Sosok itu berhenti sejenak, lalu menghilang. Tapi lampu tetap mati dan menyala sendiri, membuatku tidak bisa tidur.

Sejak malam itu, aku sadar satu hal: lampu kamar itu bukan sekadar bohlam tua. Ia adalah medium yang menghubungkan aku dengan sesuatu yang menunggu di gelap. Setiap malam, bayangan itu kembali, lebih jelas, lebih menyeramkan.

Aku mencoba pindah kamar, tapi rasa takut tidak hilang. Aku masih mendengar bisikan dan suara langkah dari kamar itu di rumah kos lain, seolah bayangan itu mengejar. Aku tahu, suatu saat, aku akan kembali menghadapi lampu yang mati itu. Dan ketika itu terjadi, aku tidak yakin apakah aku akan bisa keluar dengan selamat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Lampu Kamar Kos yang Mati"

Posting Komentar