Bangsal 05
Rumah sakit itu sudah berdiri sejak tahun 1960-an. Letaknya di pinggir kota, di tengah area hutan kecil yang sunyi. Bangunannya besar tapi banyak bagian yang sudah tidak terpakai. Lampunya remang, cat dindingnya terkelupas, dan bau antiseptik bercampur jamur menyambutku sejak pertama kali melangkah masuk.
Aku diterima tanpa banyak tanya. Kepala administrasi, seorang pria tua bernama Pak Suroyo, hanya memberi pesan singkat.
“Kalau malam jangan keliling ke sayap timur. Di sana sudah ditutup. Tidak ada pasien lagi.”
Aku mengangguk saja. Tapi entah kenapa, dari cara ia menatapku, aku tahu ada hal lain yang tidak ia katakan.
Malam pertamaku berjalan biasa. Aku duduk di pos keamanan sambil menatap monitor CCTV. Sebagian besar ruangan tampak kosong. Hanya beberapa pasien di bangsal utama yang kadang berjalan mondar-mandir di lorong.
Sekitar pukul satu dini hari, aku mendengar suara dari interkom. Suara perempuan, pelan, nyaris berbisik.
“Halo… tolong… di sini dingin sekali…”
Aku sontak berdiri. Suara itu jelas berasal dari saluran interkom ruangan Bangsal 05.
Aku menatap monitor CCTV, mencari nomor ruangan itu. Tapi anehnya, Bangsal 05 tidak muncul di layar mana pun. Nomor 01 sampai 04 ada, lalu langsung lompat ke 06.
Tidak ada jawaban. Hanya suara napas pelan dan desis seperti seseorang menahan tangis.
“Tolong… aku mau pulang…”
Suaranya begitu nyata sampai bulu kudukku berdiri. Aku segera berlari keluar pos, mengambil senter, dan berjalan ke arah lorong timur.
Lampu lorong berkelip pelan. Udara di sana lebih dingin, dan aku bisa mencium bau lembab seperti kain basah. Di ujung lorong ada pintu besar bertuliskan Sayap Timur – Ditutup Sejak 2008.
Aku ragu sejenak. Tapi rasa penasaran mengalahkan semuanya. Aku mendorong pintu itu perlahan. Engselnya berderit panjang, dan udara dingin menyambut wajahku seperti napas dari masa lalu.
Di dalam, deretan ruangan kosong berjejer di kiri kanan. Lampu-lampu mati. Hanya cahaya senter di tanganku yang menembus kegelapan.
Aku berjalan pelan, menghitung ruangan satu per satu. Nomor 01, 02, 03, 04… lalu kosong. Dinding di tempat seharusnya pintu berikutnya berada tampak berbeda. Catnya lebih tua, dan di tengahnya ada bekas pintu yang disemen tertutup.
Di atas semen itu masih terlihat samar bekas papan nomor: 05.
Jantungku berdetak keras. Aku menempelkan telinga ke dinding.
Dari balik sana, terdengar suara.
Bukan imajinasiku. Ada seseorang yang menangis pelan.
“Tolong… gelap sekali di sini…”
Aku mundur satu langkah. Suara itu nyata, datang dari balik dinding semen. Aku menelan ludah.
“Siapa di dalam?” tanyaku. “Halo? Ini penjaga malam. Kamu bisa dengar aku?”
Tangisan itu berhenti seketika. Sunyi beberapa detik. Lalu sesuatu yang membuat darahku berhenti mengalir terjadi.
“Kamu juga dengar aku sekarang.”
Suaranya berubah. Dalam. Serak. Seperti dua suara berbicara bersamaan dari tenggorokan yang sama.
Aku terpaku. Lalu dari dinding itu muncul ketukan pelan. Tok… tok… tok… Tiga kali.
Aku berlari keluar secepat mungkin.
Keesokan paginya, aku menemui Pak Suroyo. Aku menceritakan semuanya, tapi wajahnya hanya berubah pucat.
“Kau tidak ke sana kan?” tanyanya cepat.
Aku diam. Itu cukup untuk membuatnya menatapku dengan ngeri.
“Bangsal 05 sudah ditutup sejak kebakaran dua puluh tahun lalu,” katanya pelan. “Satu pasien perempuan terkunci di dalam dan tidak sempat diselamatkan. Kami tidak pernah temukan jasadnya.”
Aku menelan ludah.
“Setelah itu, setiap penjaga malam selalu mendengar suaranya. Kami sudah menutup bangsal itu selamanya.”
Aku memutuskan akan berhenti. Tapi malamnya, aku mendapat pesan aneh di ponsel dari nomor tidak dikenal.
Dari: 05Jangan pergi. Aku sudah menunggumu lama.
Ponselku terlepas dari tangan. Aku menatap layar itu dengan napas terhenti. Tidak mungkin. Tidak ada sinyal di area rumah sakit, bahkan Wi-Fi pun mati.
Aku ingin keluar malam itu juga, tapi gerbang utama dikunci dari luar. Satpam di luar pos penjagaan tertidur, dan aku tidak bisa membangunkannya.
Jam menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh ketika suara interkom berbunyi lagi. Kali ini lebih jelas, lebih dekat.
“Aku sudah di sini.”
Aku menoleh ke arah monitor. Semua layar gelap kecuali satu. CCTV di lorong belakang menampilkan gambar samar. Ada sosok perempuan berdiri membelakangiku di ujung koridor, rambutnya panjang menutupi wajah, gaun rumah sakit putihnya robek. Ia menunduk diam, tapi kepalanya perlahan berputar ke arah kamera.
Wajahnya bukan wajah manusia. Pucat, tanpa mata, hanya rongga hitam yang dalam.
Aku tahu itu bukan sekadar rekaman lama karena saat aku berbalik, dia berdiri di belakangku.
Aku menjerit. Lampu padam. Dunia jadi hitam.
Entah berapa lama aku pingsan. Saat tersadar, aku sudah di luar bangsal timur. Di depan pintu semen itu, kini ada celah kecil di tengah dinding, seperti bekas congkelan dari dalam.
Dari celah itu keluar udara hangat, disertai bau besi dan darah.
Dan di lantai dekat kakiku, ada sesuatu. Sebuah gelang identitas pasien. Namanya tertulis jelas: Mira Kurniasih – Bangsal 05.
Tapi di bawah tulisan itu, ada baris kecil lain yang baru saja ditulis dengan tinta segar berwarna merah.
Penjaga: (namaku sendiri).
Sejak malam itu, aku tidak bisa tidur di tempat terang. Setiap kali aku menutup mata, aku mendengar suara dari interkom yang tak lagi terhubung ke mana pun.
“Kamu janji kan tidak akan meninggalkanku lagi…”
Dan ketika aku membuka mata, aku melihatnya. Berdiri di sudut ruangan, rambutnya masih basah, menatapku tanpa mata.
Aku sudah keluar dari Rumah Sakit Waringin. Tapi kadang, saat aku berada di kamar sendiri, interkom di ponselku tiba-tiba hidup sendiri dan terdengar suara napas pelan di ujung sana.
Mereka bilang rumah sakit itu akhirnya ditutup permanen. Tapi aku tahu, selama Bangsal 05 masih berdiri di balik dinding semen itu, dia tidak akan pernah pergi.
Dan setiap kali aku mendengar ketukan pelan di dinding kamar kontrakanku, aku tahu persis siapa yang datang.
Dia masih mencari penjaga malam berikutnya.

0 Response to "Bangsal 05"
Posting Komentar