Lorong Rumah Sakit

 

Sekolahku selalu terasa berbeda dari sekolah lain. Guru bilang ini hanya imajinasi murid, tapi aku tahu, gedung tua ini menyimpan sesuatu yang gelap. Dulunya, sekolah kami adalah rumah sakit—bangunan tua dengan lorong panjang, kamar-kamar kecil, dan lantai kayu yang berderak saat diinjak. Beberapa guru bahkan mengaku masih bisa mencium aroma antiseptik tua, meski sudah bertahun-tahun tidak digunakan.

Hari itu aku harus lembur untuk mengerjakan tugas di ruang komputer. Jam sudah menunjukkan pukul enam sore, dan sekolah hampir kosong. Hanya aku, suara kipas angin, dan detak jam tua di aula yang terdengar. Aku melewati lorong panjang menuju ruang komputer, lorong yang dulunya adalah koridor pasien rumah sakit. Tiba-tiba, kursi roda tua muncul di tengah lorong, seolah baru saja ditinggalkan.

Jantungku berdegup kencang. Aku menoleh, tapi tidak ada siapa-siapa. Hanya lampu neon yang berkedip, membuat bayangan di dinding bergerak seperti tangan-tangan panjang yang ingin menjerat.

Saat aku melangkah lebih jauh, terdengar suara tangisan perempuan, lirih dan jauh. Suaranya seperti dari ruang perawatan yang sekarang dijadikan ruang guru. Aku tahu seharusnya aku berbalik dan lari, tapi rasa penasaran mendorongku mengikuti suara itu. Lorong itu terasa lebih panjang dari biasanya, dindingnya retak, dan aroma obat-obatan tua menusuk hidungku.

Di ujung lorong, aku melihat sosok seorang gadis dengan gaun putih kuno—pakaian pasien rumah sakit lama. Matanya kosong dan pucat, rambutnya basah seolah baru dicuci dalam hujan. Tangannya memegang selembar kertas kusut:

"Jangan biarkan aku sendirian..."

Aku membeku. Gadis itu menatapku, lalu suaranya terdengar di kepalaku, bukan hanya di telinga:

"Bersama… atau kamu akan ikut sendiri..."

Aku menoleh untuk lari, tapi lorong itu tampak tak berujung. Kursi roda tua yang tadi terlihat, kini bergerak mengikuti di belakangku, berderak dengan ritme yang sama dengan langkah kakiku. Lampu-lampu berkedip semakin cepat, dan bayangan di dinding mulai menari, menyerupai pasien-pasien yang pernah dirawat di rumah sakit ini.

Aku berlari tanpa arah, lorong berubah menjadi labirin. Setiap pintu yang kubuka membawa aroma obat yang semakin pekat, suara tangisan yang semakin keras, dan bayangan-bayangan yang semakin nyata. Rasanya waktu melambat, dan aku mulai merasakan dingin menusuk tulangku.

Tiba-tiba aku tersandung, jatuh di lantai kayu yang dingin, dan ketika kubuka mata, aku berada di aula sekolah. Lampu menyala normal, kursi roda hilang, dan gadis itu lenyap. Tapi selembar kertas kusut masih menempel di tanganku. Tulisan tangan itu sama persis dengan tulisan di kalender harian yang kukerjakan beberapa hari lalu—seolah dia menulis untukku sendiri.

Sejak malam itu, setiap aku melewati lorong lama di sekolah, bayangan gadis itu muncul di sudut mataku. Aku mendengar bisikan di lorong sunyi, kursi roda tua berderak sendiri, dan aroma antiseptik tua yang menusuk hidung. Rumah sakit lama ini, yang kini menjadi sekolah, tidak pernah benar-benar kosong. Ia menunggu, selalu menunggu, untuk menjemput siapa saja yang terlalu lama berada di lorongnya.

Dan aku tahu, suatu hari, gadis itu akan kembali, menatapku dengan mata kosongnya, dan aku mungkin tidak akan bisa pergi.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Lorong Rumah Sakit"

Posting Komentar