Bisikan di Lantai Atas
Aku tidak tahu sejak kapan rumah ini menjadi terasa asing. Sejak aku memutuskan untuk menyewanya, aku selalu merasa ada sesuatu yang mengawasi dari balik jendela, sesuatu yang tidak bisa kulihat dengan jelas tapi selalu hadir, seperti bayangan yang mengikuti langkahku di setiap ruangan. Teman-temanku sudah memperingatkanku—“Jangan terlalu lama tinggal sendiri di rumah tua itu.” Tapi aku, dengan kepongahan khas orang muda, menganggapnya hanya cerita horor tua.
Hari pertama di rumah itu biasa saja. Kayu lantai yang berderit, cat yang mengelupas, dan aroma lembap yang menusuk hidung—semua itu seharusnya menandakan rumah tua yang tak terawat. Namun, malam pertama mengubah semuanya.
Aku terbangun karena suara langkah di lantai atas. Rumah ini hanya dua lantai, dan aku tidur di lantai bawah. Awalnya kupikir itu hanya angin, atau mungkin atap yang bocor meneteskan air dengan suara tertentu. Tapi langkah itu… bukan suara biasa. Berat. Lambat. Setiap langkah seperti menekan lantai dengan sengaja, seolah ingin membuatku mendengar.
Aku menahan napas dan berusaha mendengar lebih jelas. Langkah itu berhenti tepat di atas kamar tidakku. Hatiku berdegup kencang, tapi rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Dengan pelan, aku menyalakan senter dan menaiki tangga. Lantai atas gelap gulita. Hanya lampu kecil di ujung lorong yang berkedip samar. Tidak ada siapa pun. Hanya kamar-kamar kosong dan debu yang beterbangan saat aku melangkah.
Aku menggelengkan kepala, berusaha meyakinkan diri sendiri. “Hanya angin,” kataku pelan. Namun, ketika aku berbalik untuk turun, terdengar bisikan. Hampir seperti suara anak kecil.
“Aku di sini…”
Aku menelan ludah. Suara itu tipis, nyaris tak terdengar, tapi jelas. Dari mana asalnya? Aku menyalakan senter ke arah kamar yang paling ujung lorong. Pintu itu sedikit terbuka, meski aku yakin sebelumnya semua pintu terkunci. Dengan tangan bergetar, aku mendorong pintu itu. Kosong. Hanya kamar biasa dengan jendela yang menampilkan bulan pucat di luar.
Aku menuruni tangga, mencoba meyakinkan diriku bahwa semuanya hanya imajinasi. Tapi sejak malam itu, suara-suara itu terus muncul. Awalnya bisikan, kemudian ketukan di dinding, lalu langkah-langkah berat. Semuanya berasal dari lantai atas. Setiap kali aku menaiki tangga, udara terasa lebih dingin, dan bayangan-bayangan seakan bergerak di tepi mataku.
Seminggu berlalu, dan aku mulai mencatat kejadian-kejadian aneh itu. Malam demi malam, suara itu semakin jelas. Bahkan kadang terdengar namaku dipanggil dengan nada lembut tapi dingin. Aku mencoba merekam suara itu dengan ponselku, tapi setiap kali aku memutar rekamannya di pagi hari, tidak ada apa-apa. Hanya keheningan.
Suatu malam, aku memutuskan untuk menghadapi ketakutanku. Aku membawa senter dan sebuah kamera untuk merekam apa pun yang terjadi. Ketika aku sampai di lantai atas, semua terasa sunyi, terlalu sunyi. Langkah-langkah itu mulai terdengar lagi, kali ini lebih cepat, seperti seseorang berlari di sepanjang lorong. Aku menyalakan lampu kamar terakhir. Di sana, aku melihat sesuatu yang membuat darahku membeku.
Di sudut kamar, ada cermin tua yang sebelumnya tidak pernah kulihat. Cermin itu tampak kotor, tapi ketika aku menatapnya, bayanganku sendiri tidak muncul. Sebaliknya, aku melihat sosok anak kecil, matanya besar, wajahnya pucat, menatapku dari dalam cermin. Aku ingin menjerit, tapi suara itu tersangkut di tenggorokanku. Sosok itu tersenyum, tapi senyumnya… bukan senyum manusia.
“Aku menunggumu…” bisiknya, suara itu berasal dari cermin.
Aku mundur, menabrak kursi, dan kamera terjatuh. Saat aku membengkok untuk mengambilnya, sosok itu sudah tidak ada lagi. Tapi aku bisa merasakan tatapannya mengikuti setiap gerakanku. Aku berlari menuruni tangga, pintu depan terasa sangat jauh, dan ketika aku membuka pintu, udara malam yang dingin seakan memelukku. Aku tidak tidur semalaman itu.
Beberapa hari kemudian, aku mencoba mencari tahu sejarah rumah itu. Ternyata, pemilik sebelumnya adalah seorang wanita tua yang terkenal eksentrik. Kabarnya, wanita itu kehilangan anaknya yang masih kecil secara tragis di lantai atas rumah itu, tepat di kamar yang kini menampakkan cermin itu. Orang-orang desa mengatakan arwah anak itu tidak pernah tenang, dan sering terlihat menatap dari jendela kamar, menunggu seseorang yang bisa “melihatnya.”
Aku tertawa pahit membaca itu. Jadi semua ini bukan hanya imajinasiku. Tapi ketakutan itu membuatku penasaran sekaligus ingin segera pergi dari rumah ini. Namun sesuatu menahanku. Ada rasa ingin tahu yang lebih kuat daripada ketakutanku. Aku ingin melihat, sekali saja, siapa sebenarnya yang menunggu di lantai atas itu.
Malam berikutnya, aku kembali ke lantai atas, kali ini tanpa senter. Aku hanya mengandalkan cahaya bulan yang masuk dari jendela. Semuanya sunyi, terlalu sunyi. Ketika aku sampai di kamar terakhir, cermin itu masih ada. Sosok anak itu muncul lagi, menatapku dengan mata besar yang penuh kesedihan dan kemarahan.
“Aku ingin bermain…” katanya.
Aku ingin berlari, tapi kakiku seakan menempel di lantai. Sosok itu melangkah keluar dari cermin, tubuhnya transparan tapi dinginnya menusuk kulitku. Aku merasa napasku tersedak, jantungku berdetak tak terkendali. Saat itu aku menyadari satu hal mengerikan: sosok itu bukan hanya hantu. Ia adalah penjaga rumah ini, dan aku… adalah tamu yang tak diundang.
Aku pingsan.
Ketika aku sadar, aku berada di lantai bawah, di depan pintu rumah. Kamera masih ada di tanganku. Aku menatap layar kamera, dan di dalam rekaman itu terlihat jelas—sesuatu yang tidak pernah kulihat dengan mata telanjang. Sosok anak itu menatap langsung ke kamera, senyumannya lebih lebar, dan di belakangnya, cermin berderak dan pecah menjadi ribuan serpihan.
Aku keluar rumah itu saat fajar. Sejak hari itu, aku tidak pernah kembali. Tapi kadang, di malam yang sunyi, aku masih bisa mendengar langkah-langkah berat dan bisikan yang memanggil namaku, seolah mengatakan, “Aku masih menunggumu.”
Rumah itu tetap berdiri, kosong dan sunyi, tapi aku tahu, siapapun yang masuk ke lantai atasnya, tidak akan pernah benar-benar sendiri.

0 Response to "Bisikan di Lantai Atas"
Posting Komentar