Halo, Lettavers!
Di zaman serba cepat kayak sekarang, pelan pelan sering kelihatan salah.
Kalau orang lain sudah lari, sementara kamu baru mulai jalan, rasanya kayak kamu itu lemah, telat, atau kurang usaha.
Apalagi ketika lihat media sosial.
Ada yang sudah lulus tepat waktu.
Ada yang kariernya kelihatan mulus.
Ada yang upload foto wisuda, nikah, punya anak, buka bisnis, naik jabatan.
Sementara kamu mungkin masih berjuang dengan hal yang sama sejak lama.
Skripsi yang belum selesai.
CV yang masih terasa kosong.
Kerja yang belum jelas arahnya.
Atau bahkan masih bingung: sebenarnya aku ini mau jadi apa sih
Di tengah semua itu, mudah banget muncul pikiran
“Kayaknya aku gagal deh.”
“Kenapa sih aku lambat banget dibanding orang lain”
Lettavers, lewat tulisan ini aku pengin bilang pelan pelan
Nggak apa apa kalau kamu nggak secepat orang lain.
Bukan cuma nggak apa apa.
Kadang justru di fase pelan pelan itulah kamu lagi bertumbuh paling banyak, walaupun orang lain nggak lihat.
Kamu Cuma Melihat “Halaman Depan” Hidup Orang
Lettavers, pernah nggak kamu ngerasa hidupmu biasa saja, lalu tiba tiba down gara gara lihat satu postingan orang lain
Satu foto bisa bikin kamu mempertanyakan hidupmu sendiri.
Padahal, yang kamu lihat itu cuma “halaman depan” hidup mereka.
Kayak sampul buku yang rapi, tapi kamu nggak tahu isi bab bab di dalamnya.
Kamu nggak lihat
berapa banyak mereka lembur
seberapa sering mereka nangis diam diam
berapa kali mereka ditolak
seberapa sering mereka insecure juga
Yang muncul di beranda kamu cuma versi paling rapi dan paling aman untuk dipamerkan.
Bukan bagian saat mereka jatuh.
Bukan bagian saat mereka ragu.
Bukan bagian saat mereka pengin nyerah.
Sementara diri sendiri, kamu lihat dari jarak paling dekat.
Kamu tahu semua kegagalanmu, semua ketakutanmu, semua kebiasaanmu yang belum beres.
Kamu tahu betapa sering kamu berhenti. Betapa sering kamu menunda.
Jadi perbandingannya memang nggak adil.
Kamu bandingkan “behind the scene” hidupmu dengan “highlight” hidup orang lain.
Kalau begitu terus, kamu akan selalu merasa kalah.
Ritme Hidup Nggak Harus Sama
Bayangin ada dua tanaman.
Satu bunga yang cepat tumbuh, cepat mekar, dan cepat kelihatan cantik.
Satu lagi pohon besar yang butuh waktu lama untuk tinggi, tapi akarnya kuat dan batangnya kokoh.
Kalau standar keberhasilan yang dipakai cuma “seberapa cepat berbunga”, pohon itu akan selalu kelihatan gagal.
Padahal, tujuannya beda.
Cara tumbuhnya beda.
Kebutuhan waktunya juga beda.
Hidupmu juga begitu.
Ada orang yang memang ritmenya cepat
cepat paham
cepat ambil keputusan
cepat berani lompat ke hal baru
Ada juga orang yang ritmenya pelan
butuh waktu mikir
butuh waktu adaptasi
butuh waktu menata hati sebelum melangkah
Dan itu sah.
Yang satu bukan lebih hebat dari yang lain.
Hanya berbeda.
Sayangnya, dunia sering pakai satu garis waktu buat semua orang.
Lulus harus umur sekian.
Kerja harus umur sekian.
Nikah umur segini.
Punya rumah sebelum umur segitu.
Kalau lewat dikit, langsung dibilang terlambat.
Padahal, nggak ada yang benar benar terlambat selama kamu masih hidup dan masih bisa bergerak di jalanmu sendiri.
Pelan Itu Bukan Berarti Nggak Bergerak
Kadang, karena merasa “lambat”, kamu jadi menganggap dirimu diam di tempat.
Padahal belum tentu.
Contohnya begini.
Setahun lalu mungkin kamu masih takut banget ngomong “tidak” ke orang lain.
Sekarang kamu sudah mulai belajar menolak permintaan yang bikin kamu kewalahan.
Dulu kamu selalu salahin diri sendiri kalau gagal.
Sekarang kamu mulai bisa bilang,
“Wajar kalau aku capek. Aku sudah berusaha.”
Dulu kamu ngerasa diri sendiri nggak punya nilai apa apa.
Sekarang kamu mulai belajar mengapresiasi hal kecil yang bisa kamu lakukan.
Perubahan seperti itu nggak selalu kelihatan di foto.
Nggak bisa dipamerkan dengan angka.
Tapi itu bentuk pertumbuhan.
Kamu mungkin belum lulus.
Kamu mungkin belum punya pekerjaan impian.
Kamu mungkin belum punya tabungan stabil.
Tapi kalau cara memandang dirimu sudah sedikit lebih lembut dari dulu, itu juga perkembangan.
Kamu yang sekarang dan kamu yang tiga tahun lalu, pasti beda.
Mungkin bukan dalam bentuk gelar atau jabatan, tapi dalam cara kamu bertahan dan belajar dari hari hari yang berat.
Kenapa Kamu Terlihat “Lambat”
Kadang kamu merasa lambat, padahal sebenarnya kamu sedang membawa banyak hal yang orang lain nggak tahu.
Mungkin kamu
sedang bantu keluarga secara finansial
harus kerja sambil kuliah
punya kondisi kesehatan yang bikin kamu nggak bisa sekuat orang lain
lagi recovery dari hubungan yang toxic
lagi belajar keluar dari lingkungan yang nggak suportif
Semua itu menghabiskan energi.
Dari luar, orang cuma lihat
“Oh, dia belum lulus ya.”
“Oh, dia masih kerja di sana ya.”
Padahal mereka nggak lihat isi hidupmu yang lain.
Mereka nggak tahu, kamu sudah sejauh apa bertahan.
Jadi ketika kamu merasa orang lain sudah di bab lima, sementara kamu masih di bab dua, ingat
setiap bab yang kamu jalani mungkin berisi ujian berbeda.
Dan boleh jadi, bab dua milikmu lebih berat daripada bab empat milik orang lain.
Yang Penting: Kamu Tetap Jalan, Sekecil Apa pun Langkahnya
Lettavers, pelan pelan bukan berarti berhenti.
Kadang langkahmu bentuknya sesederhana
buka laptop dan ngetik satu paragraf
baca satu halaman materi
balas satu email penting yang kamu tunda tunda
rapikan sedikit kamarmu supaya besok lebih enak belajar
Kelihatannya sepele, tapi semua itu adalah gerakan.
Kalau dikumpulkan, pelan pelan bisa jadi lompatan.
Nggak ada yang salah dengan mulai dari kecil.
Justru dari situ banyak perubahan besar lahir.
Kamu nggak harus langsung
menyelesaikan skripsi sebulan
punya bisnis yang langsung sukses
tiba tiba disiplin sepuluh kali lipat
Cukup tanya ke diri sendiri
“Hari ini, satu hal kecil apa yang bisa kulakukan untuk mendekat ke versi diriku yang aku mau”
Lalu lakukan itu.
Besok ulang lagi.
Besoknya lagi, ulang lagi.
Standar “Sukses” Versimu Sendiri
Salah satu alasan kamu merasa tertinggal adalah karena pakai standar sukses yang bukan milikmu.
Dari kecil mungkin kamu sering dengar
“Harus jadi ini.”
“Kerja yang gajinya segini.”
“Kalau umur segini belum punya apa apa, bahaya.”
Akhirnya, kamu merasa gagal bukan karena kamu nggak berkembang, tapi karena kamu mengukur diri dengan ukuran orang lain.
Coba pelan pelan tanya ke diri sendiri
Sebenarnya, hidup seperti apa yang aku inginkan
Apa yang bikin aku merasa cukup dan tenang
Apa arti sukses versiku sendiri
Bisa jadi, sukses versimu bukan punya jabatan tinggi.
Mungkin sukses versimu itu
punya pekerjaan yang jujur dan kamu suka
punya waktu buat istirahat tanpa rasa bersalah
bisa bantu keluarga
punya lingkungan pertemanan yang sehat
bisa tidur dengan hati lega
Kalau itu yang kamu kejar, maka jalannya mungkin berbeda dari orang yang mengejar panggung dan pengakuan.
Dan itu nggak masalah.
Sukses versi dunia dan sukses versi pribadi nggak selalu sama.
Kamu boleh kok memilih hasil yang menurutmu paling sesuai denganmu, bukan yang paling menarik dilihat orang lain.
Dari Letta, untuk Lettavers yang Lagi Merasa Ketinggalan
Lettavers, pelan pelan itu bukan aib.
Kamu nggak wajib lari hanya karena dunia bilang semua orang harus cepat.
Kamu boleh
istirahat dulu sebentar
mengulang pelajaran yang belum paham
memulai lagi dari awal
mencoba jalur yang berbeda
Kamu boleh berubah arah di tengah jalan.
Kamu boleh salah beberapa kali.
Kamu boleh bingung.
Semua itu bagian dari proses tumbuh.
Ingat pelan pelan juga tetap “maju”.
Walaupun kamu cuma geser satu langkah kecil, kamu tetap bergerak.
Dan itu lebih baik daripada berhenti total karena terlalu sibuk membandingkan diri.
Jadi, kalau hari ini kamu merasa
“Kenapa aku nggak secepat orang lain ya”
Jawaban pelan dari aku
Karena jalanmu memang beda.
Karena cerita yang kamu bawa juga beda.
Dan itu nggak membuatmu kurang berarti.
Hidup bukan lomba lari dengan satu garis finish yang sama.
Hidup itu perjalanan panjang dengan banyak persimpangan.
Kadang kamu jalan, kadang kamu lari, kadang kamu duduk dulu di pinggir jalan buat tarik napas.
Selama kamu masih berani melanjutkan langkahmu, sekecil apa pun, kamu tetap bertumbuh.
Pelan pelan, tapi tetap maju.
Dan itu sudah cukup.
0 Response to "Bertumbuh Pelan Pelan: Nggak Apa apa Kalau Kamu Nggak Secepat Orang Lain"
Posting Komentar