Suara di Loteng
Aku selalu suka rumah tua. Ada sesuatu di dalamnya yang membuatku merasa tenang. Jadi ketika aku menemukan rumah kontrakan murah di pinggir kota, aku langsung setuju meski bangunannya terlihat lapuk dan catnya terkelupas. Pemilik rumah, seorang pria tua bernama Pak Johan, memberi peringatan singkat.
“Jangan naik ke loteng sendirian malam-malam. Banyak yang bilang ada suara di sana.”
Aku tertawa kecil. Bagiku itu hanya cerita orang tua yang suka menakut-nakuti. Tapi sejak malam pertama, rasa penasaran itu berubah menjadi ketakutan.
Aku tidur di kamar utama. Saat tengah malam, aku terbangun karena mendengar ketukan tipis di langit-langit. Ketukannya teratur, seperti ada seseorang berjalan pelan di atas loteng.
Aku menegakkan badan. Rumah itu sepi. Tidak ada siapa pun. Jantungku mulai berdetak kencang.
Aku memutuskan untuk mengabaikannya, berpikir mungkin atap tua itu sedang menyusut karena udara dingin. Tapi suara itu tidak berhenti. Malah semakin lama semakin jelas. Ada suara langkah, bisikan, dan tawa pelan yang bercampur menjadi satu.
Malam berikutnya, aku mengambil senter dan naik ke loteng. Tangga kayu tua itu berderit keras saat aku melangkah. Loteng itu gelap, berdebu, dan penuh dengan kotak-kotak tua. Di salah satu sudut, aku menemukan sebuah boneka. Matanya yang besar dan kosong menatapku dengan cara yang aneh, membuat bulu kudukku berdiri.
Aku memutuskan untuk turun. Tapi ketika menoleh ke tangga, aku melihat bayangan hitam berdiri di ujung tangga, samar tapi jelas bentuknya seperti manusia. Aku menelan ludah dan menyalakan senter. Bayangan itu hilang begitu saja, tapi rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhku.
Sejak malam itu, suara dari loteng semakin sering terdengar. Kadang terdengar seperti suara anak menangis, kadang seperti seseorang memanggil namaku. Aku mulai merasa tidak nyaman, tetapi aku menolak pindah.
Aku ingin mencari tahu. Aku menanyakan pada Pak Johan tentang loteng itu.
“Dulu, pemilik rumah ini punya anak kecil,” katanya dengan suara pelan. “Suatu malam anak itu jatuh dari tangga loteng dan meninggal. Sejak itu, banyak yang mendengar suara tangisan di loteng, terutama orang yang tinggal sendirian.”
Aku menggigit bibir. Cerita itu terlalu menyeramkan, tapi rasa ingin tahuku lebih besar dari rasa takut.
Suatu malam, aku mendengar suara langkah lagi. Tapi kali ini, suaranya lebih dekat, seperti di kamar tidurku sendiri. Aku menyalakan lampu, memeriksa setiap sudut kamar, tapi tidak ada siapa pun.
Lalu aku mendengar bisikan.
“Ayo main denganku…”
Aku membeku. Suara itu terdengar muda, seperti anak-anak, tapi seram. Aku menatap pintu kamar. Tidak ada yang terlihat.
Langkah itu naik ke tempat tidurku. Aku menoleh, dan di sana, di ujung kasur, berdiri sosok seorang anak laki-laki. Wajahnya pucat, mata kosong, mulut tersenyum tipis. Aku menjerit, tapi suara itu seakan tersedot dari tenggorokanku. Aku tidak bisa bergerak.
Anak itu mengangkat tangan kecilnya. Tangan itu menyentuh dadaku, dan tiba-tiba aku merasa pusing, seolah tubuhku melayang keluar dari kasur.
Aku membuka mata dan menemukan diriku di loteng, berdiri di tengah ruangan gelap. Boneka di sudut menatapku, matanya bersinar merah. Suara tawa memenuhi telingaku.
Aku mencoba turun, tapi tangga menghilang. Loteng terasa semakin sempit. Suara anak itu semakin keras, memanggil namaku berkali-kali.
Aku menyadari satu hal mengerikan. Suara itu bukan hanya di kepala atau di rumah. Ia ada di mana-mana, menempel pada diriku, menguasai tubuhku sedikit demi sedikit.
Aku mulai mengamati rumah itu siang hari. Semua terasa normal. Tidak ada tangisan, tidak ada langkah, hanya sunyi biasa. Tapi setiap malam, semuanya berubah. Loteng menjadi seperti dimensi lain, penuh bayangan, tawa, dan bisikan yang membuatku hampir gila.
Aku mencoba mengusirnya dengan doa, dengan mantra, bahkan dengan membakar boneka itu. Tapi tidak ada yang berhasil. Boneka itu muncul lagi, selalu di sudut yang sama, menatapku.
Seminggu kemudian, aku menemukan catatan tua di bawah papan lantai loteng. Tulisan tangan anak itu, bertahun-tahun lalu:
Siapa pun yang datang ke sini akan menjadi temanku. Jangan pergi… Jangan biarkan aku sendiri…
Aku menelan ludah. Sekarang aku mengerti. Anak itu bukan sekadar roh. Ia mengikat orang yang tinggal di rumah ini dengan lotengnya. Setiap penghuni baru, setiap malam yang sepi, akan menjadi temannya selamanya.
Aku memutuskan untuk meninggalkan rumah itu. Tapi saat aku mengemasi barang-barang, aku mendengar suara langkah di belakangku. Aku menoleh, dan anak itu berdiri di pintu kamar, tersenyum.
“Kamu tidak boleh pergi…”
Aku berlari ke tangga utama, menabrak pintu depan, dan akhirnya keluar dari rumah itu. Udara malam terasa segar, tapi jantungku masih berdegup kencang. Aku tidak menoleh lagi.
Sejak malam itu, setiap kali aku menutup mata, aku mendengar suara tawa anak itu. Terkadang saat aku tidur di rumah teman atau kosan lain, aku mendengar ketukan pelan di atas kepala, mengingatkan aku bahwa ia masih menungguku.
Aku tahu, suatu hari, ia akan datang lagi. Dan kali itu, aku tidak akan bisa lari.
.jpeg)
0 Response to "Suara di Loteng"
Posting Komentar