Bisikan dari Loteng
Aku tidak pernah percaya pada cerita hantu—setidaknya, sampai malam itu.
Rumah nenekku tua, besar, dan sunyi. Lotengnya selalu tertutup, dan nenek pernah memperingatkanku: “Jangan pernah naik ke loteng sendirian. Ada yang tinggal di sana.” Tentu saja, aku menganggapnya hanya mitos. Loteng selalu menarik rasa penasaranku, dengan jendela kecil yang menembus cahaya bulan dan aroma debu yang menempel di setiap papan kayu.
Malam itu, aku baru saja selesai membereskan beberapa buku tua yang aku temukan di rak kamar nenek. Pukul hampir tengah malam. Rumah itu sepi, hanya terdengar suara hujan yang menimpa atap seng dan desiran angin dari celah jendela. Aku duduk di lantai, menyalakan lilin, dan membaca catatan tua nenek.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan lembut dari loteng. Aku menegakkan tubuhku, menahan napas. Ketukan itu seperti… memanggil. Perlahan, aku berdiri dan menatap tangga menuju loteng. Lampu di ujung lorong bergetar oleh hembusan angin, tapi ketukan itu tetap terdengar, berulang-ulang, ritmis.
Rasa penasaran mengalahkan rasa takutku. Aku menarik napas panjang, lalu memanjat tangga. Loteng gelap, begitu gelap sehingga aku hampir tidak bisa melihat satu sama lain. Aku menyalakan senter, menembus kegelapan. Semua tampak normal—hanya kotak-kotak tua, perabotan tertutup kain, dan debu tebal yang menempel di mana-mana.
Lalu, aku mendengar suara itu lagi. Kali ini, bukan ketukan, tapi bisikan.
“Datang… ke sini…”
Suaranya tipis, nyaris tak terdengar, tapi jelas dan memaksa. Aku menoleh ke arah loteng yang paling gelap, dan aku melihat sosok. Sosok anak kecil, berdiri di belakang salah satu kotak tua. Rambutnya kusut, pakaiannya compang-camping, wajahnya pucat seperti lilin yang hampir meleleh. Matanya menatapku, besar, kosong, dan seolah menembus jiwaku.
Aku menelan ludah, langkah kakiku terhenti. Aku ingin berbalik, lari turun ke bawah, tapi kakiku terasa kaku. Sosok itu melangkah mendekat, dan aku bisa merasakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
“Aku… kesepian…” bisiknya.
Aku tergagap. “Si… siapa kamu?”
Dia tersenyum, senyum yang membuat bulu kudukku berdiri. “Aku menunggu… seseorang yang mau bermain.”
Tiba-tiba, semua kotak di loteng bergerak sendiri, seperti tangan-tangan tak terlihat menyingkirkan kain yang menutupi mereka. Debu beterbangan, dan aroma tanah lembap memenuhi udara. Aku menutup mata, menjerit, tapi ketika membuka mata lagi, anak itu sudah berada tepat di depanku, menatapku tanpa berkedip.
Aku melangkah mundur, menabrak salah satu kotak, dan kotak itu jatuh, mengeluarkan suara keras. Sosok itu tertawa, suara anak kecil yang cempreng tapi menakutkan, memenuhi seluruh loteng. Aku menjerit lagi, kali ini terdengar di seluruh rumah. Tapi tidak ada yang datang.
Aku berlari ke tangga, tapi anak itu mengikuti. Setiap langkahnya membuat papan kayu berderit seiring dengannya, seolah seluruh loteng hidup. Aku menoleh sekilas, dan aku melihat wajahnya berubah—matanya yang kosong kini memancarkan kemarahan, bibirnya menekuk menjadi senyum penuh darah.
Aku berhasil menuruni tangga dan menutup pintu loteng secepat mungkin. Nafasku terengah, tubuhku gemetar, tapi suara anak itu tetap terdengar. Dari balik pintu, bisikan itu terdengar jelas:
“Kau tidak boleh pergi…”
Aku mencoba mengunci pintu, menekan badan ke lantai, berharap dia hilang. Tapi ketenangan itu tidak datang. Setiap malam sejak malam itu, aku mendengar langkah-langkahnya di lantai atas, bisikan lembutnya memanggil namaku, dan bayangan kecilnya muncul di sudut-sudut rumah.
Aku tidak pernah memberitahu siapapun. Teman-temanku pasti menganggapku gila. Tapi aku tahu, dia nyata. Dia tinggal di loteng itu, menunggu, dan setiap kali aku mendekati pintu loteng, aku bisa merasakan tatapannya menembus dinding, memanggil, memaksa.
Beberapa minggu kemudian, aku mencoba menyingkirkan keberadaannya. Aku membuka semua jendela loteng, membakar kotak-kotak tua, membersihkan debu hingga ke sudut terakhir. Tapi malam itu, dia muncul lagi. Sosoknya berdiri di tengah loteng yang kosong, menatapku, dan kali ini, suaranya terdengar lebih keras:
“Kau tidak akan pernah bisa pergi… ini rumah kita sekarang.”
Aku terdiam. Tidak ada jalan keluar. Rumah ini bukan hanya tempat tinggalku. Loteng itu adalah gerbangnya, dan aku—tanpa sadar—menjadi bagian dari dunia yang dia ciptakan.
Sekarang, aku menulis ini di siang hari, mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa semua ini hanya mimpi buruk. Tapi aku tahu malam akan datang, dan dia akan kembali. Ketukan di loteng akan terdengar lagi. Bisikan itu akan memanggil. Dan aku akan menatap sosoknya, menunggu permainan yang tidak pernah berakhir.
Aku belajar satu hal: beberapa rumah tidak hanya menampung manusia. Mereka menampung cerita, rahasia, dan kadang… sesuatu yang lebih gelap, yang tidak akan pernah membiarkanmu pergi.
Aku tidak pernah membuka pintu loteng lagi. Tapi kadang, aku mendengar ketukan itu—pelan, ritmis—dan aku tahu, dia masih menunggu di sana, menatapku dari kegelapan, dan mengingatkanku bahwa aku bukan lagi pemilik rumah ini. Aku hanyalah tamu yang tidak diundang.

0 Response to "Bisikan dari Loteng"
Posting Komentar