Memaafkan Diri Sendiri: Proses yang Tidak Instan tapi Mungkin

Halo, Lettavers!

Pernah nggak sih kamu tiba tiba kepikiran sesuatu yang pernah kamu lakukan di masa lalu
Lalu rasanya langsung sesak
Malu
Menyesal
Dan kamu cuma bisa ngomel ke diri sendiri

“Kok dulu aku bego banget ya”
“Kenapa sih aku ngomong kayak gitu”
“Andai aja aku nggak milih jalan itu…”

Kita sering diajarin buat memaafkan orang lain.
“Maafin ya kalau dia salah.”
“Jangan simpan dendam.”
“Lepaskan biar hatimu tenang.”

Tapi jarang banget ada yang ngajarin kita cara memaafkan diri sendiri.
Padahal, kadang orang yang paling sering kita marahi dan kita hukum adalah diri kita sendiri.

Lewat tulisan ini, aku pengin ajak kamu pelan pelan ngobrol tentang sesuatu yang rasanya sederhana tapi ternyata rumit
Memaafkan diri sendiri.
Proses yang nggak instan sama sekali, tapi tetap mungkin.


Luka yang Datang dari Diri Sendiri

Lettavers, luka itu nggak selalu datang dari orang lain.
Kadang, yang bikin hati kamu berat justru keputusanmu sendiri di masa lalu.

Hal hal semacam
kamu merasa salah pilih jurusan
kamu pernah nyakitin orang yang kamu sayang
kamu bohong demi kenyamanan sesaat
kamu bertahan di hubungan yang kamu tahu nggak sehat
kamu berhenti di tengah jalan padahal sudah sejauh itu

Lalu, setelah waktu lewat, kamu lihat lagi ke belakang.
Sekarang kamu lebih paham, lebih dewasa, lebih sadar.
Dan di momen itu, muncul kalimat
“Kalau saja dulu aku…”

Penyesalan itu manusiawi.
Tanda bahwa kamu sekarang sudah bukan orang yang sama seperti dulu.
Karena kalau kamu masih sama persis, kamu mungkin tidak akan merasa sesakit itu mengingatnya.

Tapi kalau penyesalan itu terus menerus kamu putar di kepala tanpa arah, lama lama ia berubah jadi cambuk.
Bukan lagi
“Aku belajar dari kesalahan.”
Tapi berubah menjadi
“Aku memang orang yang buruk.”

Di situ bedanya.
Di situ letak pentingnya memaafkan diri sendiri.


Bedakan antara “Aku Melakukan Salah” dan “Aku Ini Salah”

Ada perbedaan besar antara
“Aku melakukan kesalahan”
dengan
“Aku ini kesalahan.”

Kalimat pertama mengakui bahwa kamu manusia.
Bisa salah, bisa keliru, bisa kurang tepat.
Tapi masih ada ruang untuk berubah dan berkembang.

Kalimat kedua memukul identitasmu.
Seolah olah seluruh dirimu adalah kegagalan.
Seolah olah tidak ada satu pun hal baik yang layak kamu punya.

Sering tanpa sadar, kita ngomong ke diri sendiri dengan cara yang kejam.
Kalimat yang kalau diucapkan ke orang lain mungkin terdengar kasar banget.

“Pantas aja kamu nggak bahagia.”
“Kamu memang selalu ngerusak semuanya.”
“Lihat tuh orang lain, kok bisa ya hidupnya bener.”

Padahal, kalau ada teman curhat dan mengakui kesalahan, kamu mungkin akan bilang
“Ya namanya juga manusia.”
“Kamu sudah berusaha waktu itu.”
“Yang penting sekarang kamu tahu dan pelan pelan memperbaiki.”

Lucunya, hal yang sama sering tidak kamu berikan ke dirimu sendiri.

Memaafkan diri sendiri bukan berarti menghapus kesalahan.
Bukan pura pura nggak pernah terjadi.
Tapi mengakui
“Aku memang salah waktu itu. Tapi aku bukan hanya kesalahanku.”


Kenapa Susah Banget Memaafkan Diri Sendiri

Kalau memaafkan diri sendiri adalah hal yang sehat, kenapa rasanya susah banget

Beberapa hal ini mungkin relate buat kamu

Pertama, kamu merasa harus dihukum.
Di dalam hati, kamu berpikir
“Kalau aku memaafkan diri sendiri, berarti aku melupakan kesalahan.”
“Kalau aku merasa baik baik saja, berarti aku nggak bertanggung jawab.”

Jadi kamu memilih untuk terus mengingatnya sebagai bentuk “hukuman”.
Padahal, hukuman tanpa ujung nggak bikin apa apa jadi lebih baik.
Ia hanya menghabiskan energimu.

Kedua, kamu terbiasa dengan standar yang terlalu tinggi.
Harusnya sempurna.
Harusnya tahu dari awal.
Harusnya tidak pernah salah pilih.

Seolah olah, kamu lupa satu fakta sederhana
dulu kamu tidak punya pengetahuan dan pengalaman yang kamu punya sekarang.

Keputusan yang kamu ambil waktu itu diambil oleh versi dirimu yang masih belajar.
Sekarang, kamu melihat ke belakang dengan kacamata baru dan menyalahkan diri lama yang bahkan tidak tahu apa yang kamu tahu sekarang.

Ketiga, kamu takut kalau kamu memaafkan diri sendiri, kamu akan mengulangi hal yang sama.
Padahal yang membuatmu lebih bijak bukan rasa bersalah yang berlebihan, tapi pemahaman.
Kamu nggak perlu terus menerus memukul diri untuk bisa belajar.


Menerima Fakta Bahwa Kamu Juga Manusia Biasa

Lettavers, ini mungkin terdengar sederhana, tapi butuh waktu buat benar benar masuk ke hati

Kamu juga manusia.

Manusia yang bisa
salah baca situasi
salah menilai orang
salah memilih jalan
salah bereaksi
salah bicara di waktu yang nggak tepat

Terkadang, kalau hal seperti itu dilakukan orang lain, kita bisa mengerti.
“Kondisinya lagi berat, wajar dia bereaksi begitu.”
“Ya dia juga nggak tahu bakal gini.”

Tapi kalau pelakunya diri sendiri, kita jadi sangat keras.
Seakan akan kita wajib selalu kuat, selalu benar, dan selalu tahu jalan terbaik.

Padahal, justru dari pilihan yang salah, kita sering belajar paling banyak.
Bukan berarti kita harus sengaja salah, tentu saja bukan.
Tapi kalau pun sudah terlanjur, bukan berarti selesai di situ.

Menerima bahwa kamu manusia bukan alasan untuk menyerah.
Justru itu titik awal.
Dari situ kamu bisa bilang
“Oke, aku memang salah di bagian ini. Sekarang apa yang bisa aku lakukan dengan pengetahuan yang aku punya sekarang”


Pelan Pelan Belajar Memaafkan Diri Sendiri

Memaafkan diri sendiri adalah proses, bukan tombol yang bisa kamu pencet sekali lalu selesai.
Kadang, kamu merasa sudah ikhlas.
Besok besok, ingatan itu muncul lagi dan rasanya masih perih.
Itu wajar.

Yang penting, setiap kali rasa itu datang, kamu punya pilihan untuk merespons dengan cara yang sedikit lebih lembut dari sebelumnya.

Beberapa hal kecil yang bisa kamu coba

Satu, berhenti mengulang kalimat yang menyakitkan ke diri sendiri.
Mulai sadari cara kamu ngomong di dalam kepala.
Kalau tiap ingat masa lalu kamu selalu berkata
“Dasar gagal”
“Memalukan banget”
coba pelan pelan ganti dengan
“Aku memang salah. Tapi aku sedang belajar.”
“Aku ngerti kenapa dulu aku begitu. Sekarang aku mau jadi lebih baik.”

Awalnya terasa dipaksakan.
Tapi lama lama, otakmu akan terbiasa dengan suara yang lebih ramah.

Dua, tulis versi lengkap ceritanya.
Kadang kita hanya mengingat bagian “aku salah” tanpa melihat konteks.
Coba tulis di kertas atau di catatan digital
waktu itu kamu lagi di situasi apa
kamu lagi ngerasain apa
apa saja keterbatasanmu waktu itu
apa yang kamu tahu dan tidak kamu tahu

Bukan buat mencari alasan kosong, tapi buat jujur melihat bahwa kamu tidak mengambil keputusan di ruang kosong.
Kamu berada di situasi tertentu, dengan kapasitas tertentu, dan tekanan tertentu.

Tiga, tanyakan
“Kalau ini dialami teman baikku, apa aku akan sekeras ini ke dia”
Kalau jawabannya tidak, kenapa kamu merasa pantas diperlakukan lebih buruk daripada orang lain

Empat, belajar mengganti “andai saja” dengan “ke depannya”.
Alih alih tenggelam di
“Andai saja aku dulu tidak melakukan itu”
coba ganti pelan pelan dengan
“Ke depannya, kalau ketemu situasi mirip, aku mau mencoba cara yang berbeda”

Yang sudah terjadi memang tidak bisa diubah.
Tapi bagaimana itu memengaruhi langkahmu ke depan masih bisa kamu pilih.


Mengizinkan Diri untuk Pulih

Kadang, yang kamu butuhkan bukan nasihat rumit, tapi izin.
Izin untuk tidak menghukum diri selamanya.
Izin untuk pelan pelan merasa layak bahagia lagi.
Izin untuk tertawa tanpa merasa bersalah.
Izin untuk mulai berharap, walaupun kamu pernah salah ambil jalan.

Mungkin kamu merasa
“Aku nggak pantas punya hidup baik setelah apa yang pernah kulakukan.”

Tapi bayangkan kalau ada orang yang kamu sayang banget bilang begitu ke kamu.
Apa kamu akan bilang
“Iya, kamu pantas menderita terus.”
Atau kamu akan bilang
“Kamu memang salah, tapi kamu juga layak dapat kesempatan baru.”

Lettavers, kamu juga layak.

Luka dari kesalahanmu mungkin nggak akan hilang seratus persen.
Ada hal hal yang memang tidak bisa diperbaiki.
Ada orang yang mungkin tidak akan kembali.
Ada kesempatan yang memang sudah lewat.

Tapi bukan berarti hidupmu berhenti di titik itu.
Kamu boleh membawa luka itu sambil tetap melangkah.
Pelan pelan, kamu akan belajar hidup berdampingan dengan rasa bersalah tanpa membiarkannya mengendalikan seluruh hidupmu.


Kamu Bukan Didefinisikan oleh Kesalahan Terbesarmu

Ada kalimat yang mungkin berat, tapi pelan pelan bisa kamu pegang

Kesalahan terbesarmu bukan satu satunya hal yang menentukan dirimu.

Kamu juga adalah
pilihan kecilmu untuk tetap bangun setiap hari
usaha ulangmu meski sering gagal
cara kamu minta maaf walau canggung
niatmu untuk nggak ngulangin hal yang sama
rasa peduli yang bikin kamu sedih saat menyakiti orang lain

Kamu adalah keseluruhan cerita, bukan hanya satu bab gelap di masa lalu.

Memaafkan diri sendiri bukan berarti menghapus bab itu.
Bab itu tetap ada.
Tetap tertulis.
Tetap punya dampak.

Tapi kamu boleh lanjut menulis bab berikutnya dengan tinta yang berbeda.


Dari Letta untuk Lettavers yang lagi berat hatinya

Kalau hari hari kamu akhir akhir ini diisi kalimat
“Kenapa dulu aku begitu”
“Aku benci versi diriku yang dulu”

Aku ingin bilang
Terima kasih sudah cukup jujur untuk mengakui kesalahan.
Itu tanda kamu sudah bertumbuh.

Sekarang, pelan pelan, izinkan dirimu belajar hal yang satu ini
Memaafkan diri sendiri.

Tidak akan instan.
Tidak harus langsung lega.
Mungkin masih akan ada malam malam di mana kamu menangis diam diam mengingat masa lalu.

Tapi setiap kali itu datang, kamu bisa pilih untuk berkata
“Aku memang salah. Tapi aku nggak akan berhenti di sini. Aku sedang belajar menjadi versi diriku yang lebih baik.”

Pelan pelan.
Nggak apa apa kalau belum sepenuhnya sembuh hari ini.
Yang penting, kamu nggak lagi menjadikan dirimu musuh, tapi teman yang sedang kamu rangkul.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Memaafkan Diri Sendiri: Proses yang Tidak Instan tapi Mungkin"

Posting Komentar