TEROR PACAR RENTAL - Chapter 2

 

Mahendra tertawa kecil melihat reaksiku yang kikuk. “Maaf kalau buat kamu kaget,” ucapnya dengan senyum simpulnya. Aku masih menatapnya dengan pandangan kaget, namun perlahan bibirku mengulas senyum malu-malu.

Kami berjalan menyusuri taman kota yang dipenuhi suara tawa anak-anak kecil dan pasangan muda yang duduk di bangku sambil menikmati senja. Jantungku masih berdetak cepat, belum terbiasa dengan kehadiran pria seperti Mahendra di sampingku. Ia mengenakan kemeja biru langit dengan lengan digulung hingga siku, menambah kesan santai tapi tetap rapi. Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk memulai percakapan.

“Apa kamu sering… ngelakuin ini?” tanyaku pelan, berusaha memecah keheningan.

Mahendra menoleh ke arahku dan mengangkat alisnya sebelum menjawab, “maksudnya? disewa?” Aku mengangguk kikuk, merasa pipiku kembali memanas. “Enggak terlalu sering. Aku punya kerjaan lain, tapi ini jadi cara buat aku untuk ketemu orang-orang baru dan dengerin cerita mereka. Kayak kamu, Vivhy,” tambahnya dengan senyum simpul.

Kata-katanya membuat hatiku berdesir aneh. Entah kenapa, senyum dan caranya memandangku memberikan rasa nyaman. Kami terus berjalan sambil mengobrol ringan. Mahendra sangat sabar mendengarkan ceritaku tentang kampus, hobiku, dan betapa membosankannya hidup sebagai mahasiswa kupu-kupu.

“Vivhy. Menurutku kamu harus coba untuk mengejar hal-hal yang lebih besar di luar zona nyaman kamu. Pacar rental mungkin awal yang kecil, tapi aku rasa ini lebih dari sekadar iseng, iya kan?” katanya sambil menatap lurus ke depan, matanya berkedip serius.

Aku terdiam sesaat, terpesona oleh caranya bicara yang dewasa dan bijaksana. Mungkin, bertemu Mahendra bukan sekadar permainan iseng di aplikasi itu. Mungkin ini adalah awal dari petualangan baru yang tak pernah kuduga.


***

Aku merenungkan kata-kata Mahendra. Ada kebenaran dalam ucapannya yang langsung tertuju ke hatiku, seakan ia bisa melihat diriku lebih dalam dari yang kuperlihatkan.

"Apa menurutmu aku... terlalu nyaman di zona ini?" tanyaku pelan, sambil menundukkan kepala. Aku mencoba menyembunyikan rasa maluku, tapi Mahendra sepertinya menangkap kegelisahanku.

Ia tersenyum, lembut namun penuh makna. "Nggak salah kok punya zona nyaman. Tapi kalau kamu merasa terjebak di sana, mungkin ini waktunya keluar. Coba hal-hal yang selama ini cuma kamu pikirkan dalam hati. Mungkin malah bisa bantu kamu buat berkembang."

Kami melangkah lebih pelan, seolah menikmati momen senja yang makin memerah di langit. Aku menghela napas panjang, menyadari bahwa ada banyak keinginan dan impian yang selama ini kupendam. Seperti takut gagal, aku selalu memilih yang aman, yang tak membuatku harus berjuang terlalu keras.

“Kalau kamu sendiri, Mahendra?” tanyaku, ingin tahu lebih banyak tentang dirinya. “Apa kamu nggak punya mimpi yang besar?”

Ia tertawa kecil, membuatku makin penasaran. “Tentu saja. Aku punya banyak mimpi. Tapi, kadang mimpi itu nggak bisa dicapai dengan cepat. Aku ingin bantu orang, dengar cerita-cerita mereka, dan kadang jadi bagian kecil dari hidup mereka. Seperti sekarang.”

Aku merasa tersentuh oleh jawabannya. Kehadirannya seperti angin sejuk yang perlahan membuka dinding-dinding ketakutanku. Sejenak, kami terdiam sambil memandangi suasana senja yang mulai meredup, diiringi lampu-lampu taman yang mulai menyala.

“Vivhy,” panggil Mahendra, suaranya lebih pelan dari biasanya. “Kalau kamu bisa mulai dari satu hal untuk keluar dari zona nyaman, apa yang akan kamu pilih?”

Pertanyaan itu membuatku terdiam. Aku tak menyangka akan ditanya sesuatu yang begitu personal, tapi aku tahu jawabannya dalam hati.

"Mungkin... aku akan coba belajar lebih berani menunjukkan perasaanku pada orang lain," jawabku ragu. "Aku selalu khawatir kalau membuka diri terlalu banyak."

Mahendra mengangguk, seolah memahami. “Rasa takut terluka itu wajar. Tapi kalau kita terus membiarkan ketakutan itu, kita nggak akan tahu seberapa besar potensi kita. Kadang rasa sakit bisa jadi guru terbaik.”

Aku merasa dadaku bergetar, mendengar kata-kata Mahendra yang penuh makna. Dalam beberapa jam saja, ia mampu membuatku melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.

“Aku nggak nyangka pacar rental bisa sekeren ini,” celetukku dengan tawa kecil, mencoba mencairkan suasana yang mendadak serius.

Mahendra ikut tertawa, lalu menatapku dalam-dalam. "Mungkin bukan cuma sekadar pacar rental, Vivhy. Mungkin kita memang ditakdirkan bertemu untuk alasan yang lebih dari itu." Ucapnya dengan senyuman yang penuh arti yang tak bisa kumengerti.



Bersambung...


Note: Beri komentar dan masukan ya supaya aku semangat ngelanjutin ceritanya! Happy reading!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "TEROR PACAR RENTAL - Chapter 2"

Posting Komentar