TEROR PACAR RENTAL - Chapter 10


Mahendra tiba di rumah sakit tak lama setelah Vivhy meneleponnya. Ia terlihat cemas namun tetap tenang, mencoba menenangkan Vivhy yang mulai diliputi kecemasan dan rasa bersalah. Setelah bertanya pada beberapa petugas keamanan dan mendapatkan sedikit informasi tentang arah yang mungkin diambil Rama, Mahendra mengajak Vivhy masuk ke mobilnya untuk mulai mencari ke tempat-tempat yang mungkin dituju oleh Rama.

"Kita coba cari disekitar rumah sakit dan ke tempat yang sering kalian kunjungi bersama. Mungkin dia ke sana untuk menenangkan diri," ujar Mahendra sambil mengemudi dengan fokus.

Vivhy mengangguk, meskipun hatinya diliputi keraguan. Ia mencoba mengingat semua tempat yang pernah ia datangi bersama Rama, berharap menemukan petunjuk kecil yang bisa membantu.

Mereka mencari ke berbagai tempat: taman dekat kampus, kafe favorit mereka, bahkan ke kost Rama, tapi semua usaha itu sia-sia. Waktu terus berjalan, dan malam semakin larut, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Rama. Vivhy semakin khawatir, apalagi dengan pesan-pesan mengancam yang terus menghantuinya.

Setelah beberapa jam berlalu, Mahendra akhirnya menghentikan mobil di pinggir jalan. Keduanya terdiam, lelah dan putus asa, belum tahu harus kemana lagi mencari.

Mahendra menatap Vivhy dengan ekspresi prihatin. "Vivhy, mungkin kita bisa lapor ke polisi. Kalau Rama dalam bahaya, mereka bisa membantu lebih cepat."

Vivhy menggigit bibirnya, merasa bimbang. "Tapi bagaimana kalau... kalau sebenarnya dia cuma mau sendiri sebentar?"

Mahendra menghela napas, mencoba menenangkan Vivhy. "Aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi keadaan ini terasa lebih dari sekadar keinginan untuk sendirian, apalagi setelah apa yang terjadi padanya." Mahendra berhenti sejenak, seolah memikirkan sesuatu yang serius. "Vivhy, aku nggak suka kalau kamu sampai dalam bahaya juga. Kita perlu mengambil langkah lebih serius."

Vivhy memandang Mahendra dalam-dalam. Ia tahu Mahendra benar, tetapi ada sesuatu yang membuatnya takut untuk melibatkan orang lain. Ia merasa bahwa situasi ini sangat personal, dan bahwa orang di balik semua ini punya obsesi yang lebih besar dari sekadar ancaman.

Namun, di sisi lain, dia juga tidak bisa mengabaikan keselamatan Rama dan dirinya sendiri. Akhirnya, Vivhy mengangguk pelan. "Baiklah, kita bisa coba lapor ke polisi."

Dengan keputusan itu, mereka menuju kantor polisi terdekat. Vivhy memberikan semua informasi yang ia miliki. Tentang kejadian di rumah sakit, pesan-pesan misterius yang ia terima, hingga hadiah-hadiah yang dikirimkan secara anonim. Polisi mendengarkan dengan serius dan mencatat setiap detail yang mungkin membantu pencarian Rama.

Setelah laporan selesai, Vivhy dan Mahendra duduk di luar kantor polisi, terdiam. Malam semakin larut, dan udara terasa semakin dingin.

"Kamu yakin nggak mau pulang dan istirahat dulu?" tanya Mahendra pelan, melihat Vivhy yang tampak kelelahan.

Vivhy hanya menggeleng, ekspresi cemas masih terpancar dari wajahnya. "Aku… nggak bisa tenang kalau belum tahu dia di mana."

Mahendra menghela napas panjang, lalu menatap Vivhy dengan lembut. "Kita sudah melakukan yang bisa kita lakukan malam ini. Polisi akan mulai pencarian, dan kita bisa terus mencari informasi lagi besok."

Vivhy akhirnya mengangguk pelan, meskipun rasa gelisah masih menghantuinya. Mereka memutuskan untuk pulang, berharap bahwa esok akan membawa kabar baik dan Rama ditemukan dalam keadaan selamat.


Bersambung...


Note: Beri komentar dan masukan ya supaya aku semangat ngelanjutin ceritanya! Happy reading!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "TEROR PACAR RENTAL - Chapter 10"

Posting Komentar