TEROR PACAR RENTAL - Chapter 12
Hari demi hari berlalu dalam kecemasan yang semakin mendalam. Vivhy tak bisa lagi menjalani hidupnya seperti biasa. Setiap langkahnya terasa berat, seperti selalu dibayang-bayangi oleh sosok misterius yang mengirim ancaman dan pesan menakutkan. Tak ada kabar baru dari polisi, dan Rama masih belum ditemukan. Vivhy terus bertanya-tanya di mana dia, dan apakah pria itu baik-baik saja.
Sementara itu, Mahendra tetap di sisinya. Hampir setiap hari, Mahendra menemani Vivhy ke kampus atau sekadar duduk bersamanya di kafe untuk mengobrol, mencoba membuatnya tetap tenang. Meskipun begitu, Vivhy sadar bahwa Mahendra juga semakin waspada. Setiap kali mereka berjalan di luar, ia bisa melihat Mahendra sering memeriksa sekitar, seolah memastikan bahwa mereka tidak sedang diikuti.
Suatu sore, ketika Vivhy kembali ke kost setelah pertemuan di kampus, ia menemukan sesuatu yang mengejutkan di depan pintu kamarnya. Sebuah kotak kecil tergeletak di lantai, diikat dengan pita hitam, dan dilengkapi dengan kartu kecil yang diikat rapi di atasnya.
Hati Vivhy berdegup kencang. Dengan tangan bergetar, ia memungut kotak itu dan membuka kartu yang tersemat di atasnya. Tulisan di kartu itu terasa dingin dan mengancam:
"Kamu hanya milikku. Jangan coba-coba mendekati orang lain."
Ketakutan semakin mencengkeramnya. Dengan cepat, ia membuka kotak itu, dan jantungnya hampir berhenti saat melihat isinya. Di dalam kotak terdapat sebuah foto lama dirinya yang diambil tanpa sepengetahuannya, kemungkinan saat dia duduk di sebuah kafe, dan di bawah foto itu terdapat secarik kain yang robek, sepertinya dari pakaian Rama.
Seketika itu juga, Vivhy langsung menghubungi Mahendra. Ia bercerita dengan suara terbata-bata, nyaris menangis.
"Mahendra… ada kotak dengan pesan ancaman lagi di depan kamarku. Ada fotoku di dalamnya… dan sesuatu yang seperti kain dari pakaian Rama."
Mahendra mendengarkan dengan tenang di ujung telepon, lalu segera berkata, "Aku akan datang sekarang. Jangan sentuh apa pun lagi di sana, oke? Kita akan melaporkannya ke polisi."
Vivhy menunggu di dalam kamarnya dengan perasaan gelisah. Beberapa menit kemudian, Mahendra tiba. Wajahnya tegang saat ia memeriksa kotak itu, lalu ia berkata dengan nada yang lebih lembut, "Vivhy, ini sudah terlalu jauh. Kita harus benar-benar mencari tahu siapa yang mengawasi kamu."
Setelah mereka melaporkan barang bukti baru itu ke polisi, Mahendra mengajak Vivhy untuk sementara menginap di tempat yang lebih aman. Meski awalnya ragu, Vivhy setuju. Rasa takutnya sudah terlalu besar untuk tetap tinggal di kost, apalagi setelah pesan ancaman dan paket itu. Mahendra membawanya ke sebuah apartemen yang aman, tempat temannya yang sementara kosong.
Di apartemen itu, Mahendra mencoba mengalihkan perasaan cemas Vivhy dengan mengajaknya berbincang tentang hal-hal ringan dan mencoba mendukungnya semampunya. Namun, saat malam tiba dan Vivhy mencoba beristirahat, ia tetap tak bisa tidur nyenyak, terbayang oleh sosok misterius yang entah ada di mana.
Keesokan harinya, Vivhy menerima panggilan dari polisi. Mereka menemukan jejak lokasi terakhir yang mungkin menjadi tempat persembunyian orang yang telah menculik Rama, kemungkinan di pinggiran kota. Polisi meminta Vivhy untuk datang ke kantor polisi guna membantu menyusun rencana penanganan yang aman.
Vivhy menatap Mahendra dengan penuh kecemasan dan berharap ini bisa segera berakhir. Dengan ketakutan yang masih melingkupi dirinya, ia tahu bahwa ia harus melawan rasa takut itu untuk menyelamatkan Rama dan menghentikan teror yang menghantuinya. Mahendra menepuk bahunya pelan, memberinya keberanian untuk menghadapi kenyataan yang ada di depan mereka.
"Apapun yang terjadi," kata Mahendra, menatapnya dengan tegas, "Aku akan ada di sampingmu."
Bersambung...
Note: Beri komentar dan masukan ya supaya aku semangat ngelanjutin ceritanya! Happy reading!

0 Response to "TEROR PACAR RENTAL - Chapter 12"
Posting Komentar