AMINA

Liburan musim panas kali ini terasa berbeda. Aku hanya di rumah bersama adik kecilku, Athena, yang baru berusia empat tahun. Sehari-hari, dia tampak ceria seperti biasa, bermain boneka dan berlarian di sekitar rumah. Tapi akhir-akhir ini, ada sesuatu yang membuatku sedikit terganggu.

Dia sering berbicara sendiri, tertawa, dan berlarian seolah-olah ada yang menemaninya. Aku sempat menganggap itu hal biasa—anak-anak memang suka berimajinasi. Tapi ada satu hal yang membuatku penasaran: dia sering menyebut nama "Amina".

"Siapa Amina?" tanyaku suatu sore sambil menatap matanya yang polos.

"Anak kecil," jawab Athena singkat, tanpa sedikitpun rasa ragu.

Aku mencoba berpikir positif. Mungkin "Amina" hanya teman imajinasinya, seperti yang sering dimiliki anak-anak seusianya. Tetapi, semakin hari, interaksi Athena dengan "Amina" terasa semakin nyata.

Saat malam tiba dan aku bersiap untuk tidur, aku mendengar suara ketukan di pintu kamarku. "Tok, tok." Aku pun bangkit, lalu pintu terbuka perlahan. Di sana, berdiri Athena, memandangku dengan wajah yang tampak marah.

"Amina, ayo tidur denganku! Kenapa kau selalu tidur dengan kakakku?" ucapnya sambil menatap ke arah tempat tidurku.

Seketika, bulu kudukku meremang. Athena berbicara seperti benar-benar melihat seseorang di dalam kamarku. Aku mencoba mengendalikan rasa takutku dan bertanya dengan tenang, "Athena, apa Amina ada di sini?"

Athena mengangguk. "Iya, dia di sebelahmu," jawabnya polos.

Jantungku berdetak semakin cepat. Aku mengalihkan pandanganku ke sebelahku, yang tentu saja kosong. "Athena, kamu pasti bercanda, kan?" tanyaku, mencoba tersenyum meskipun rasanya sulit.

Athena hanya menggeleng dan kemudian berjalan mendekat, berdiri di sisi tempat tidurku. "Amina bilang dia suka kakak," ucapnya pelan, hampir berbisik. "Tapi dia sedih karena kakak nggak pernah melihat dia."

Aku tidak tahu harus berkata apa. Suasana di kamarku terasa semakin sunyi, bahkan angin malam yang biasanya terdengar dari jendela pun lenyap.

"Kamu lihat Amina sekarang?" tanyaku dengan suara bergetar.

Athena mengangguk lagi, lalu menunjuk ke sudut kamar. "Dia ada di sana. Dia sedang berdiri di dekat lemari."

Dan akupun melihat, sosok hitam dengan mata merah menyala sedang menatapku dengan pekat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "AMINA "

Posting Komentar