TEROR PACAR RENTAL - Chapter 16


Hari demi hari, kebersamaan Vivhy dan Mahendra semakin mempererat hubungan mereka. Mereka mulai sering menghabiskan waktu bersama, bahkan di luar rutinitas antar-jemput yang dilakukan Mahendra. Ada perhatian-perhatian kecil dari Mahendra yang membuat Vivhy merasa istimewa, dan seiring waktu, rasa nyaman yang ia rasakan semakin tumbuh.

Suatu hari, Mahendra mengajaknya ke sebuah pameran seni di pusat kota. Vivhy sebenarnya tidak terlalu mengenal dunia seni, tetapi Mahendra menjelaskan setiap lukisan dengan penuh antusiasme. Ia bercerita tentang arti warna-warna dalam lukisan dan mengajak Vivhy menebak perasaan di balik setiap gambar. Mereka tertawa, berbagi cerita, dan menikmati waktu tanpa ada tekanan.

“Kamu tahu, aku suka sekali warna-warna cerah ini. Rasanya seperti energi baru,” kata Mahendra sambil menunjuk sebuah lukisan abstrak yang dipenuhi warna merah, oranye, dan kuning.

Vivhy mengangguk, merasa terinspirasi oleh caranya melihat dunia. “Aku suka melihat kamu menjelaskan seni, Mahendra. Caramu bicara… bikin semuanya terasa lebih menarik.”

Mereka tertawa bersama, dan Mahendra menatap Vivhy dengan tatapan hangat, seakan berkata tanpa kata bahwa ia menyukai momen ini.

Di hari yang lain, Mahendra mengajak Vivhy ke pantai. Mereka berdua menikmati suasana laut, berjalan di sepanjang bibir pantai sambil mendengar deburan ombak yang menenangkan. Mahendra, yang menyadari Vivhy sedikit kelelahan dengan aktivitas kampusnya, sengaja memilih tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

“Kamu perlu waktu istirahat, Vivhy,” katanya sambil menyodorkan kelapa muda. “Kadang-kadang kamu terlalu keras sama diri sendiri. Istirahat itu penting.”

Vivhy tersenyum malu, merasa tersentuh oleh perhatian Mahendra. “Terima kasih, Mahendra. Kamu selalu tahu apa yang aku butuhkan.”

Di lain waktu, Mahendra bahkan mengejutkan Vivhy dengan mengajaknya ke sebuah toko buku kecil yang tenang. Mahendra tahu Vivhy senang membaca, dan ia sengaja mencarikan buku-buku yang mungkin belum pernah dibaca Vivhy.

“Kamu suka novel ini, kan? Aku pikir kamu belum pernah membacanya,” katanya sambil tersenyum, menunjukkan sebuah novel klasik yang sudah jarang ditemukan.

Vivhy merasa hatinya berdesir, terkejut betapa Mahendra mengingat hal-hal kecil yang ia suka. Dalam kebersamaan mereka, Mahendra terus menunjukkan perhatian yang begitu tulus dan tanpa pamrih. Meskipun ia tidak pernah mengatakan apa pun secara langsung, caranya peduli dan memandang Vivhy membuat segalanya jelas. Mereka menjadi semakin dekat, dan Vivhy menemukan dirinya semakin nyaman berada di sisinya.

Suatu malam, saat mereka duduk di balkon apartemen Vivhy menikmati suasana kota yang tenang, Vivhy merasa perasaannya berubah. Meski awalnya ia hanya kagum dan nyaman dengan Mahendra, kini ada sesuatu yang lebih. Ia merasa aman, dilindungi, dan perlahan-lahan mulai merasakan sesuatu yang lebih dalam.

“Mahendra,” katanya pelan, menatap pria itu dengan senyum tipis. “Aku… bersyukur kamu ada di sini. Kamu sudah banyak membantuku. Aku nggak pernah menyangka bisa merasakan hal ini.”

Mahendra menatapnya, lalu tersenyum penuh arti. “Aku juga, Vivhy. Kamu orang yang berarti buatku. Aku hanya ingin kamu tahu… aku akan selalu ada untukmu, apapun yang terjadi.”

Malam itu, Vivhy menyadari bahwa hubungannya dengan Mahendra telah berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan. Di tengah segala kesulitan dan ketakutan yang pernah ia alami, Mahendra hadir sebagai seseorang yang selalu menguatkannya, memberikan dukungan tanpa syarat.

Bersambung...

Note: Beri komentar dan masukan ya supaya aku semangat ngelanjutin ceritanya! Happy reading!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "TEROR PACAR RENTAL - Chapter 16"

Posting Komentar