TEROR PACAR RENTAL - Chapter 8
Keesokan harinya, Vivhy dikejutkan dengan kabar yang membuat jantungnya hampir berhenti berdetak. Teman-temannya di kampus mengabarkan bahwa Rama ditemukan terkapar di jalan, dengan luka tusukan di perut dan beberapa lebam di wajahnya. Dia segera dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Kabar itu membuat Vivhy merasa cemas dan takut. Apa yang terjadi padanya? Siapa yang bisa melakukan hal seperti itu?
Vivhy merasa gelisah sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Kepalanya dipenuhi dengan beragam pertanyaan yang tak bisa dijawab. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Rama bisa sampai terluka seperti itu? Dan yang lebih mengganggu, apakah ini ada kaitannya dengan perasaan aneh yang ia rasakan selama ini, atau bahkan dengan hadiah-hadiah misterius yang diterimanya?
Sesampainya di rumah sakit, Vivhy langsung menuju ruang perawatan intensif. Dalam perjalanan, ia mencoba menghubungi Mahendra untuk memberitahukan keadaan Rama, namun ia tidak mendapat jawaban. Di depan pintu ruang ICU, Vivhy berdiri sejenak, menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Begitu ia melangkah masuk, ia melihat beberapa teman Rama yang sudah berada di sana, terlihat cemas dan khawatir.
Rama terbaring di ranjang rumah sakit, tubuhnya dipenuhi perban dan alat medis yang terpasang di berbagai bagian tubuhnya. Luka tusukan yang mengerikan terlihat jelas di perutnya, dan wajahnya yang biasa ceria kini tampak pucat dan penuh lebam. Vivhy merasakan hatinya tercabik-cabik melihatnya dalam keadaan seperti itu.
"Sial… siapa yang bisa melakukan ini padamu, Ram?" bisiknya dengan suara serak, sambil duduk di sebelah ranjangnya.
Seorang perawat mendekat dan memberitahukan bahwa kondisi Rama cukup stabil, meski belum sadar sepenuhnya. Ia baru saja melalui operasi untuk menghentikan pendarahan, dan mereka masih menunggu respon dari tubuhnya.
Vivhy menggenggam tangan Rama yang dingin, merasakan ketakutan dan kecemasan yang menyelimutinya. Ia tidak tahu siapa yang bisa membencinya sampai sejauh ini. "Tolong bangun, Ram. Aku… aku nggak tahu apa yang terjadi, tapi aku nggak bisa kehilangan kamu," ujarnya dengan lirih.
Sementara itu, pikirannya melayang kembali ke hadiah-hadiah misterius yang terus datang. Semuanya terasa semakin mengerikan. Apa mungkin Rama menjadi korban karena kedekatannya dengan Vivhy? Siapa yang berani melakukan ini padanya, dan mengapa?
Waktu berlalu dengan lambat, dan Vivhy tetap berada di sisi Rama, tak bisa beranjak. Ia hanya bisa berdoa, berharap temannya itu segera sadar dan memberitahunya apa yang sebenarnya terjadi. Ketakutannya makin besar, terutama setelah dia menerima pesan singkat di ponselnya yang dikirim dari nomor yang tak dikenal:
"Aku sudah peringatkan dia untuk menjauh darimu, Vivhy. Jangan coba-coba lagi untuk mendekati siapa pun."
Pesan itu semakin menambah ketegangan yang sudah ada. Siapa pun yang mengirimkan pesan itu jelas terobsesi dengan Vivhy dan mulai mengancam orang-orang yang dekat dengannya. Jantung Vivhy berdegup kencang, dan rasa takutnya semakin menguasai dirinya. Apa yang harus ia lakukan? Jika Rama bisa terluka seperti itu, apakah ia juga bisa menjadi target selanjutnya?
Tiba-tiba, pintu ruang ICU terbuka dan seorang dokter memasuki ruangan, menyatakan bahwa kondisi Rama masih kritis, namun ada perkembangan positif. Vivhy merasa sedikit lega mendengar itu, meski kecemasan tetap menggelayuti hatinya.
Sambil menunggu kabar lebih lanjut, Vivhy merasa semakin terjebak dalam rasa takut yang mendalam. Hadiah-hadiah misterius, pesan-pesan yang mengancam, dan sekarang Rama yang terluka. Semuanya terasa seperti bagian dari rencana yang lebih besar, yang tak bisa ia pahami. Vivhy merasa terjebak dalam situasi yang tak ia pilih, dan kini ia harus menghadapi kenyataan bahwa hidupnya mungkin sudah terancam.
Namun, satu hal yang jelas. Vivhy tak akan mundur. Dia harus mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas semua ini, sebelum seseorang lagi jatuh menjadi korban.
Bersambung...
Note: Beri komentar dan masukan ya supaya aku semangat ngelanjutin ceritanya! Happy reading!

0 Response to "TEROR PACAR RENTAL - Chapter 8"
Posting Komentar