TEROR PACAR RENTAL - Chapter 7


Keesokan harinya, Vivhy kembali terkejut mendapati sebuah paket lain di depan pintu kamarnya. Kali ini, paket itu terbungkus kertas hitam dengan pita merah, terlihat lebih elegan dan misterius daripada kiriman sebelumnya. Rasa penasaran bercampur dengan sedikit rasa takut menyelinap di hatinya, namun ia tetap mengambil paket itu dan membuka isinya.

Di dalamnya terdapat sebuah kalung berbandul hati kecil yang terukir namanya, "Vivhy." Namun yang membuatnya merasa tidak nyaman adalah kartu kecil yang menyertainya. Tulisan di kartu itu lebih jelas dan langsung, dengan tinta hitam tebal yang berbunyi:

Vivhy, kamu hanya milikku seorang. Jangan dekat dengan orang lain.”

Jantung Vivhy berdegup keras. Pesan itu terasa aneh dan menyeramkan. Ia duduk di tepi tempat tidurnya, menatap kalung dan kartu tersebut dengan perasaan bercampur aduk. Kali ini, hadiah yang dikirimkan terasa lebih personal, tapi juga jauh lebih mengintimidasi daripada sebelumnya. Siapa yang mengirim ini? Dan apa maksudnya dengan mengatakan bahwa ia "miliknya seorang"?

Ia merasa bingung sekaligus waspada. Vivhy berpikir apakah ia harus membicarakan hal ini dengan seseorang, namun ia khawatir jika terlalu banyak orang tahu, itu justru akan memancing masalah. Akhirnya, ia memutuskan menyimpan kalung dan kartu itu di dalam laci meja belajarnya dan mencoba mengabaikan rasa tidak nyamannya.

Namun, ketidaknyamanannya semakin bertambah saat hari-hari berlalu. Vivhy mulai merasa seperti diawasi, bahkan ketika berada di kampus atau sedang jalan sendiri. Terlebih lagi, kedekatannya dengan Rama juga mulai terganggu. Rama beberapa kali bercerita bahwa ia merasa seperti diikuti oleh seseorang yang tak dikenal.

"Vivy, kamu pernah merasa ada yang aneh nggak?" tanya Rama suatu sore, saat mereka berbincang di kampus.

Vivhy menatapnya, merasa cemas. "Maksudmu aneh gimana, Ram?"

"Aku nggak tahu… beberapa hari terakhir ini, rasanya ada orang yang membuntutiku. Kalau aku jalan sendirian, aku merasa ada yang mengamatiku dari jauh. Pas aku lihat ke belakang, dia selalu hilang entah ke mana," Rama menjelaskan dengan ekspresi khawatir.

Jantung Vivhy berdegup lebih kencang. Pikiran tentang hadiah-hadiah misterius itu muncul kembali. Apakah mungkin ini berhubungan? Siapa sebenarnya pengirim hadiah itu, dan kenapa Rama tiba-tiba merasa diikuti?

Vivhy mencoba menenangkan diri dan berkata, "Kalau memang merasa tidak aman, kamu bisa lapor ke petugas keamanan kampus atau pihak berwajib. Aku rasa, ini bukan hal sepele, apalagi kalau kamu merasa diikuti terus."

Rama mengangguk, meski masih terlihat resah. "Iya, mungkin aku akan coba lakukan itu kalau masih terus terjadi. Tapi kamu juga hati-hati ya, Vivhy. Jangan sampai ada apa-apa sama kamu."

Vivhy tersenyum lemah, namun dalam hatinya ia tak bisa menghilangkan kecemasan yang semakin besar. Malam itu, ia berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar sambil memikirkan semua kejadian aneh yang terjadi belakangan ini dari hadiah misterius, pesan yang mengintimidasi, dan sekarang Rama yang merasa dibuntuti.

Ia tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres, namun ia masih belum bisa menemukan jawabannya. Satu hal yang pasti, ia harus lebih berhati-hati. Entah siapa yang ada di balik semua ini, Vivhy merasakan bahwa seseorang sedang mengamatinya. Seseorang yang mungkin terlalu terobsesi padanya.


Bersambung...


Note: Beri komentar dan masukan ya supaya aku semangat ngelanjutin ceritanya! Happy reading!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "TEROR PACAR RENTAL - Chapter 7"

Posting Komentar