TEROR PACAR RENTAL - Chapter 5
Beberapa hari setelah menerima bunga misterius itu, Vivhy memutuskan untuk menghabiskan akhir pekannya sendirian di galeri seni yang baru dibuka di kotanya. Ia suka seni, dan meskipun bukan penikmat fanatik, pameran itu tampak menarik dan memberikan kesempatan baginya untuk keluar dari rutinitas. Saat memasuki ruang pamer yang penuh lukisan berwarna-warni dan patung-patung unik, tiba-tiba ia melihat sosok yang familiar.
"Mahendra?" gumamnya tak percaya. Pria yang dikenalnya sebagai sosok santai dan ramah itu tampak berbeda di sini, mengenakan kemeja hitam yang elegan, berdiri mengamati lukisan dengan ekspresi serius.
Mahendra menoleh, tersenyum begitu menyadari kehadirannya. "Vivhy! Kebetulan sekali. Kamu suka galeri seni juga?"
Vivhy mengangguk, sedikit terkejut. "Nggak terlalu sering sih, tapi kalau ada pameran menarik seperti ini, aku suka datang."
Mereka berdua pun mulai berjalan beriringan, membicarakan lukisan-lukisan di dinding dengan komentar ringan. Mahendra kadang menambahkan pemikirannya dengan gaya yang santai namun berbobot, membuat Vivhy kagum dengan pemahamannya yang dalam tentang seni. Seiring waktu, percakapan mereka mengalir dengan mudah, hingga Vivhy merasa nyaman berbincang dengannya di tengah suasana galeri yang tenang.
"Aku nggak nyangka kamu bisa suka tempat seperti ini," ujar Vivhy dengan senyum takjub.
Mahendra tertawa kecil, menatapnya dengan tatapan yang dalam. "Ada banyak hal yang mungkin kamu belum tahu tentang aku, Vivhy. Kalau kamu mau, bisa saja kita ngobrol lebih dalam sambil makan malam nanti?"
Vivhy terdiam sejenak, ragu, tapi Mahendra sudah beralih ke lukisan di sebelahnya dengan ekspresi santai, seolah-olah tidak terlalu memaksakan ajakannya. Entah mengapa, kehadirannya memberi rasa nyaman yang membuat Vivhy tak ingin mengecewakan.
"Baiklah," jawabnya akhirnya, sambil tersenyum malu-malu. "Tapi kamu yang pilih tempatnya ya."
Mahendra mengangguk dengan tatapan berbinar, lalu mereka pun melanjutkan mengelilingi galeri. Sesekali, Vivhy merasakan Mahendra memperhatikannya dengan cara yang lebih lembut, lebih dalam. Meskipun demikian, ia hanya menganggap perhatian itu sebagai tanda ketulusan Mahendra yang ingin mendengarkan cerita orang lain, sebagaimana yang pernah ia katakan.
Malam itu, mereka makan malam di sebuah restoran kecil bergaya vintage tak jauh dari galeri. Mahendra menceritakan beberapa pengalamannya, tentang pertemuannya dengan berbagai macam orang melalui pekerjaan sampingannya, dan bagaimana hal itu mengajarkannya banyak hal tentang hidup. Sementara Vivhy berbagi kisah-kisah kecil tentang masa kuliahnya, tentang teman-teman dan impian-impian yang selama ini ia sembunyikan. Ia merasa nyaman bercerita, dan Mahendra mendengarkan dengan perhatian penuh.
"Aku kagum dengan caramu melihat dunia," ujar Vivhy pelan, setelah sejenak mereka terdiam menikmati makan malam.
Mahendra menatapnya, dan kali ini ada kilatan rasa yang dalam di matanya, meskipun ia tidak mengatakannya. Ia hanya tersenyum lembut. "Dan aku kagum dengan keberanianmu, Vivhy. Kamu lebih kuat dari yang kamu pikirkan."
Vivhy tersenyum, meski tak ada getaran khusus di hatinya. Ia merasa Mahendra adalah teman yang luar biasa, seseorang yang mampu melihat dunia dengan cara yang bijaksana, tetapi ia tahu bahwa perasaannya sebatas kekaguman.
Saat mereka keluar dari restoran, Vivhy kembali merasakan rasa hangat yang sama seperti saat di taman. Tapi ia yakin ini lebih pada persahabatan yang tak terduga daripada cinta. Mahendra berjalan di sampingnya, masih dengan senyum yang penuh arti, dan meskipun ia tak mengucapkan perasaannya, Vivhy tahu bahwa pria itu mengharapkan sesuatu lebih.
Namun, untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati kebersamaan ini tanpa membawa perasaan yang berlebihan. Dalam benaknya, ia tersenyum kecil, bersyukur atas kehadiran Mahendra sebagai seseorang yang istimewa, sebagai teman yang mengajarinya melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Bersambung...
Note: Beri komentar dan masukan ya supaya aku semangat ngelanjutin ceritanya! Happy reading!

0 Response to "TEROR PACAR RENTAL - Chapter 5"
Posting Komentar