TEROR PACAR RENTAL - Chapter 14
Beberapa hari berlalu dalam bayang-bayang ketakutan yang semakin mendalam. Pesan-pesan ancaman tidak lagi muncul sesering sebelumnya, tetapi ketenangan itu justru membuat Vivhy semakin waspada. Di setiap sudut, ia merasa diawasi. Setiap langkah terasa berat, seolah-olah ada sesuatu yang terus mengintai tanpa terlihat.
Mahendra menyadari betapa cemasnya Vivhy. Ia tetap berada di sisinya, menawarkan ketenangan dan perlindungan yang Vivhy butuhkan. Akhirnya, suatu malam, Mahendra berbicara dengan nada serius, menawarkan solusi agar Vivhy merasa lebih aman.
"Vivhy, aku punya apartemen kosong di tengah kota. Jarang aku pakai, dan tempatnya aman. Aku pikir… kamu bisa pindah ke sana sementara ini, sampai situasinya lebih tenang," ucap Mahendra hati-hati.
Vivhy menatap Mahendra ragu, tetapi kemudian ia menyadari bahwa ini mungkin satu-satunya cara untuk mendapatkan sedikit ketenangan. Setelah pertimbangan yang panjang, ia akhirnya mengangguk.
Keesokan harinya, Mahendra membantu Vivhy mengemas barang-barangnya dan membawanya ke apartemen tersebut. Tempat itu kecil namun nyaman, dengan dinding putih bersih dan pemandangan kota dari balkon. Lokasinya cukup tinggi, memberi rasa aman bahwa tak sembarang orang bisa mengaksesnya.
“Di sini, kamu bisa lebih tenang. Aku juga bisa sering mampir untuk memastikan kamu aman,” ujar Mahendra dengan senyum lembut, berusaha meyakinkan Vivhy.
Vivhy menatap ruangan itu sambil menghela napas panjang. Meskipun masih merasa cemas, ia bersyukur bahwa Mahendra begitu peduli padanya.
Hari-hari berikutnya, ia mulai menjalani rutinitas baru di apartemen tersebut. Perlahan, ketakutan dan kecemasan mulai mereda, meski bayang-bayang peristiwa kelam itu tetap membekas. Mahendra sering mengunjunginya, membawa makanan atau sekadar berbincang untuk mengusir kesepiannya.
Suatu malam, ketika Mahendra berkunjung lagi dan mereka duduk di balkon sambil menikmati pemandangan lampu kota, Vivhy berbicara pelan.
"Mahendra… aku nggak tahu lagi bagaimana harus berterima kasih padamu. Kalau kamu nggak ada, mungkin aku nggak akan sanggup melalui semua ini."
Mahendra tersenyum kecil, menatapnya dengan lembut. "Vivhy, nggak perlu terima kasih. Kamu adalah seseorang yang… penting bagiku. Aku hanya ingin memastikan kamu bisa menjalani hidupmu dengan tenang."
Vivhy menunduk, merasa hangat mendengar kata-kata Mahendra. Dalam sekejap, apartemen itu terasa lebih nyaman, seolah menjadi tempat yang aman baginya. Meski mereka masih belum tahu siapa pelaku sebenarnya, kehadiran Mahendra membuatnya merasa bahwa ia tidak akan menghadapi ini sendirian.
Bersambung...
Note: Beri komentar dan masukan ya supaya aku semangat ngelanjutin ceritanya! Happy reading!

0 Response to "TEROR PACAR RENTAL - Chapter 14"
Posting Komentar