TEROR PACAR RENTAL - Chapter 11


Setelah semalaman berusaha mencari, Vivhy akhirnya kembali ke kostnya dengan tubuh yang lelah dan hati yang tak tenang. Mahendra mengantarnya sampai depan pintu, lalu menawarkan diri untuk menunggu jika Vivhy ingin ditemani. Namun, Vivhy menolak, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia bisa melalui ini sendirian.

"Terima kasih, Mahendra. Aku nggak tahu harus bilang apa kalau kamu nggak ada tadi malam," ujar Vivhy, mencoba tersenyum meskipun wajahnya terlihat lelah.

Mahendra mengangguk dengan senyum simpul. "Kapan pun kamu butuh aku, Vivhy. Jangan ragu untuk menghubungi, oke?"

Vivhy mengangguk. Ia masuk ke kamarnya dan duduk di kasur, menghela napas panjang. Tubuhnya ingin segera beristirahat, tetapi pikirannya terus berputar, memikirkan Rama dan pesan-pesan misterius itu.

Namun, tepat ketika ia mulai merasa kantuk, ponselnya berbunyi. Ada pesan baru masuk dari nomor tak dikenal:

"Sudah kubilang, Vivhy. Kamu milikku seorang. Rama sudah menerima konsekuensinya."

Pesan itu membuat tubuh Vivhy merinding. Kali ini, ancaman itu terasa lebih nyata, seolah sosok misterius itu berada di dekatnya dan memperhatikan setiap gerak-geriknya. Dengan tangan bergetar, ia mencoba membalas pesan itu.

"Siapa kamu? Apa yang kamu mau dariku?"

Tidak lama, balasan masuk.

"Hanya kamu. Cukup jauhkan semua orang darimu, dan semuanya akan aman."

Vivhy merasa ketakutan, namun di saat yang sama, ia marah. Sosok ini sepertinya mengontrol hidupnya, memutuskan siapa yang bisa dekat dengannya dan siapa yang tidak.

Ketika hari mulai beranjak siang, Vivhy memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, berharap mendapat kabar baru dari polisi tentang keberadaan Rama. Sesampainya di sana, perawat memberi tahu bahwa polisi telah meninjau CCTV rumah sakit dan menemukan rekaman di mana seorang pria berbadan besar membawa Rama keluar dari gedung. Sayangnya, wajah pria itu tidak terlihat jelas, dan polisi masih berusaha melacak identitasnya.

Vivhy merasa semakin tak berdaya. Di tengah keputusasaannya, Mahendra mengirim pesan menanyakan apakah ada perkembangan. Ia ingin bercerita, tetapi masih ragu apakah Mahendra harus tahu semuanya. Namun, rasa ketakutannya semakin besar, dan ia menyadari bahwa ia tidak bisa menghadapinya sendirian.

Akhirnya, ia menghubungi Mahendra, meminta untuk bertemu di sebuah kafe yang tidak jauh dari rumah sakit. Tak lama kemudian, Mahendra tiba, terlihat khawatir namun siap mendengarkan.

Vivhy mengambil napas dalam sebelum menceritakan semuanya, pesan-pesan ancaman, hadiah misterius, dan perasaan bahwa seseorang sedang mengawasi setiap langkahnya.

Mahendra mendengarkan dengan tenang, sesekali mengangguk. Wajahnya menunjukkan ekspresi serius, dan setelah Vivhy selesai bercerita, ia menatapnya dengan penuh perhatian.

"Vivhy, kamu harus melindungi diri. Kita tidak bisa mengabaikan ancaman ini," katanya tegas. "Aku akan tetap di dekatmu. Setidaknya sampai kita tahu siapa yang ada di balik semua ini."

Meski cemas, Vivhy merasa sedikit lega karena Mahendra ada di sisinya. Namun, ia juga tahu bahwa situasi ini semakin berbahaya, dan mereka harus bertindak cepat sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi.


Bersambung...


Note: Beri komentar dan masukan ya supaya aku semangat ngelanjutin ceritanya! Happy reading!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "TEROR PACAR RENTAL - Chapter 11"

Posting Komentar