Insecure karena Kehidupan Orang Lain

Hai Lettavers!

Pernah tidak sih kamu tiba tiba merasa tidak percaya diri hanya karena melihat kehidupan orang lain? Padahal sebelumnya kamu baik baik saja. Kamu merasa hidupmu cukup, kamu merasa dirimu tidak seburuk itu. Tapi setelah membuka media sosial, melihat pencapaian seseorang, kehidupan yang terlihat rapi, hubungan yang tampak bahagia, atau kesuksesan yang datang lebih cepat, hatimu mendadak ciut.

Kamu mulai bertanya, “Kok hidupku begini begini saja, ya?”, “Aku kurang di mana sih?”, “Kenapa aku belum sampai seperti mereka?”

Insecure itu tidak selalu datang dari dalam diri. Sering kali, ia tumbuh subur karena kita terlalu sering bercermin pada kehidupan orang lain. Di Letta Library kali ini, kita akan ngobrol pelan pelan tentang insecure yang lahir dari perbandingan, kenapa ia terasa menyakitkan, dan bagaimana cara berdamai dengannya tanpa harus membenci diri sendiri.

1. Insecure Itu Bukan Tanda Kamu Lemah

Lettavers, hal pertama yang perlu kita luruskan bersama adalah ini: insecure bukan tanda kamu lemah. Insecure adalah reaksi manusiawi ketika kamu terus menerus terpapar perbandingan.

Kita hidup di dunia yang setiap hari mempertontonkan keberhasilan, keindahan, produktivitas, dan pencapaian dalam bentuk visual yang menarik. Otak kita tidak pernah benar benar diberi jeda. Setiap hari kita melihat hidup orang lain yang tampak lebih rapi, lebih maju, lebih bahagia.

Kalau kamu sesekali merasa minder, merasa kurang, merasa tertinggal, itu bukan karena kamu rapuh. Itu karena kamu manusia yang punya perasaan dan sadar sedang berada di tengah arus perbandingan yang sangat kuat.

2. Kehidupan Orang Lain yang Kamu Lihat Bukanlah Cerita Utuh

Salah satu sumber terbesar insecure adalah kesalahan dalam membandingkan. Kita membandingkan hidup kita yang kita jalani 24 jam penuh, dengan hidup orang lain yang hanya kita lihat cuplikan terbaiknya.

Mereka mengunggah keberhasilan, tapi tidak selalu mengunggah kegagalannya.
Mereka membagikan kebahagiaan, tapi jarang membagikan pertengkaran, ketakutan, atau rasa kosongnya.
Mereka menceritakan pencapaian, tapi tidak selalu menceritakan kelelahan yang mengiringinya.

Tanpa sadar, kita sedang menaruh hidup kita yang penuh luka, lelah, ragu, dan hari hari biasa, di samping kehidupan orang lain yang sudah diseleksi, dikurasi, dan ditampilkan dalam versi terbaiknya. Jelas hasilnya tidak akan pernah seimbang.

3. Insecure Membuat Kita Pelan Pelan Meremehkan Diri Sendiri

Ketika kamu terlalu sering membandingkan hidupmu dengan kehidupan orang lain, dampaknya tidak selalu langsung terasa besar. Ia sering datang perlahan.

Awalnya kamu hanya berpikir, “Hebat ya dia.”
Lalu berubah menjadi, “Kenapa aku tidak seperti itu?”
Lama lama menjadi, “Aku memang tidak sehebat mereka.”
Dan akhirnya bisa berujung, “Aku memang tidak cukup.”

Insecure yang terus dipelihara pelan pelan menggerogoti cara kamu memandang dirimu sendiri. Kamu mulai meragukan kemampuanmu, meremehkan pencapaianmu, dan merasa hidupmu kurang berarti. Padahal, dulu sebelum semua perbandingan itu, kamu bisa merasa bangga pada hal hal kecil yang berhasil kamu lakukan.

4. Kehidupan Orang Lain Dijadikan Standar, Hidup Kita Jadi Serba Salah

Saat kehidupan orang lain dijadikan standar, hidupmu sendiri seperti tidak pernah benar.

Kalau kamu sedang istirahat, kamu merasa malas karena melihat orang lain produktif.
Kalau kamu bergerak pelan, kamu merasa tertinggal karena orang lain terlihat cepat.
Kalau kamu bahagia dengan hal sederhana, kamu merasa hidupmu kurang ambisius.
Kalau kamu belum punya pencapaian besar, kamu merasa tidak layak dibanggakan.

Akhirnya, apa pun yang kamu lakukan terasa kurang. Bukan karena hidupmu benar benar buruk, tapi karena kamu terus mengukurnya dengan penggaris milik orang lain.

5. Insecure Tidak Selalu Tentang Iri, Tapi Juga Tentang Takut

Banyak orang mengira insecure hanya tentang iri. Padahal, di balik insecure sering tersembunyi rasa takut yang dalam.

Takut tertinggal.
Takut gagal.
Takut tidak cukup.
Takut mengecewakan.
Takut hidupnya tidak berarti.

Ketika kamu melihat kehidupan orang lain yang terlihat “lebih”, rasa takut itu seperti disentil. Kamu jadi merasa waktu berjalan terlalu cepat, sementara kamu belum merasa siap menjadi siapa siapa. Insecure lalu muncul sebagai alarm yang terus berbunyi di dalam kepala.

6. Setiap Orang Berjalan dengan Waktu yang Berbeda

Lettavers, salah satu hal paling sulit diterima, tapi juga paling menenangkan adalah ini: setiap orang berjalan dengan waktunya masing masing.

Ada yang menemukan jalannya di usia muda.
Ada yang baru berani memulai di usia matang.
Ada yang cepat terlihat berhasil.
Ada yang harus melalui kegagalan berkali kali dulu.

Kamu tidak bisa memaksa bunga mekar lebih cepat hanya karena bunga di sebelahmu sudah mekar lebih dulu. Waktumu bukan waktunya mereka, dan waktu mereka bukan waktumu. Kamu tidak terlambat. Kamu hanya sedang berada di tahap hidupmu sendiri.

7. Insecure Membuat Kamu Lupa bahwa Kamu Juga Sedang Berproses

Saat kamu terlalu fokus pada hasil akhir orang lain, kamu lupa melihat proses yang sedang kamu jalani saat ini. Kamu lupa bahwa kamu juga sedang belajar, sedang bertumbuh, sedang jatuh bangun dengan caramu sendiri.

Mungkin progresmu tidak terlihat wow.
Mungkin perubahanmu tidak viral.
Mungkin pencapaianmu tidak bisa dipamerkan.

Tapi bukan berarti ia tidak nyata. Tidak semua kemajuan harus terlihat besar di mata orang lain untuk bisa berarti di hidupmu sendiri.

8. Cara Pelan Pelan Berdamai dengan Insecure karena Perbandingan

Insecure tidak bisa langsung hilang begitu saja. Tapi kamu bisa belajar mengelolanya pelan pelan, dengan lebih lembut pada dirimu sendiri.

Pertama, sadari pemicu insecurenya.
Apakah ia datang setelah melihat media sosial? Setelah bertemu orang tertentu? Atau setelah mendengar cerita tertentu? Dengan mengenali pemicunya, kamu bisa lebih waspada pada dirimu sendiri.

Kedua, berhenti mengukur hidupmu dengan hidup orang lain.
Setiap kali kamu mulai membandingkan, coba tanyakan, “Apakah jalan hidup kami benar benar sama?” Biasanya jawabannya tidak.

Ketiga, kembalikan fokus pada dirimu sendiri.
Daripada terus melihat apa yang belum kamu punya, coba lihat apa yang sudah berhasil kamu lewati. Sekeras apa pun hidupmu belakangan ini, kamu masih di sini. Itu bukan hal kecil.

Keempat, kurangi konsumsi konten yang membuatmu merasa rendah.
Kamu tidak harus memusuhi media sosial, tapi kamu boleh memilih apa yang kamu izinkan masuk ke dalam kepalamu setiap hari.

Kelima, izinkan dirimu merasa tidak aman tanpa terus menghukum diri.
Insecure bukan musuh yang harus diperangi habis habisan. Ia kadang hanya sinyal bahwa hatimu sedang lelah dan butuh penguatan.

9. Kamu Tidak Kurang, Kamu Hanya Tidak Sama

Lettavers, kamu tidak kurang hanya karena hidupmu tidak seperti hidup orang lain. Kamu tidak gagal hanya karena jalanmu berbeda. Kamu tidak tertinggal hanya karena langkahmu lebih pelan.

Kamu sedang menjalani hidupmu sendiri, dengan segala kondisi, latar belakang, luka, mimpi, dan harapannya. Dan itu tidak perlu diseragamkan dengan siapa pun.

Kehidupan orang lain bukan cermin nilai dirimu. Kamu tidak diukur dari seberapa cepat kamu sampai di suatu titik, tapi dari seberapa jujur kamu menjalani perjalananmu sendiri.


Insecure karena kehidupan orang lain adalah rasa yang sangat manusiawi di era perbandingan tanpa henti ini. Kamu tidak aneh karena merasakannya. Kamu tidak lemah karena terkadang merasa kecil. Tapi yang perlu dijaga adalah jangan sampai insecure membuatmu lupa bahwa kamu juga adalah seseorang yang sedang berjuang.

Lettavers, hidup bukan soal siapa yang terlihat paling maju, tapi siapa yang tetap berjalan meski pelan. Kamu tidak harus menjadi versi siapa pun untuk bisa merasa cukup. Kamu hanya perlu menjadi dirimu yang terus belajar, meski langkahmu gemetar.

Kalau hari ini kamu masih sering merasa minder, tidak apa apa. Pelan pelan saja. Suatu hari nanti, kamu akan melihat ke belakang dan sadar, ternyata kamu sudah berjalan sejauh itu, meski dulu kamu sering merasa tertinggal.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Insecure karena Kehidupan Orang Lain"

Posting Komentar