Capek Jadi Mahasiswa yang “Harus” Aktif Terus

Hai Lettavers!

Sejak awal masuk kuliah, mungkin kamu sering mendengar kalimat seperti ini: mahasiswa itu harus aktif, mahasiswa itu harus ikut organisasi, mahasiswa itu harus banyak kegiatan, supaya tidak kalah saing di dunia kerja. Kalimat kalimat seperti ini sering terdengar seperti nasihat yang baik, bahkan terasa memotivasi. Tapi di balik itu, pelan pelan muncul tekanan yang tidak selalu kita sadari.

Banyak dari kita yang akhirnya merasa harus terus bergerak. Harus selalu terlihat sibuk. Harus mengikuti banyak kegiatan. Harus tampil aktif di mana mana. Padahal, di dalam diri, tidak semua dari kita selalu punya energi yang sama setiap saat. Capek, lelah, jenuh, dan ingin berhenti sebentar sering datang, tetapi kita takut mengakuinya.

Tulisan ini adalah ruang untuk mengakui bahwa capek jadi mahasiswa yang harus aktif terus itu nyata. Dan tidak apa apa jika kamu merasakannya.

1. Aktif yang Awalnya Pilihan, Lalu Berubah Jadi Tuntutan

Di awal kuliah, keaktifan sering terasa seperti pilihan yang menyenangkan. Kita ikut organisasi karena penasaran. Ikut kepanitiaan karena diajak teman. Ikut kegiatan karena ingin menambah pengalaman. Semuanya terlihat seru dan penuh semangat.

Namun seiring waktu, aktif tidak lagi terasa sebagai pilihan. Ia berubah menjadi tuntutan yang tidak tertulis. Jika tidak ikut apa apa, kita mulai merasa tertinggal. Jika tidak terlihat sibuk, kita mulai merasa kurang. Jika tidak punya jabatan, kita mulai ragu pada nilai diri sendiri.

Lettavers, di titik ini, aktif bukan lagi soal minat, tetapi soal tekanan untuk terlihat berguna.

2. Standar Mahasiswa Ideal yang Diam Diam Menekan

Di banyak tempat, ada gambaran tentang mahasiswa ideal. Mahasiswa yang aktif di organisasi. Mahasiswa yang sering jadi panitia. Mahasiswa yang lancar berbicara di depan umum. Mahasiswa yang punya banyak relasi. Mahasiswa yang prestasinya lengkap.

Tanpa sadar, standar ini menekan banyak orang yang sebenarnya lebih nyaman bekerja dalam diam. Yang lebih suka belajar pelan pelan. Yang tidak suka tampil di depan. Yang tidak kuat dengan keramaian.

Lettavers, tidak semua orang diciptakan dengan energi sosial yang sama. Tapi standar mahasiswa ideal sering membuat kita lupa bahwa setiap orang punya cara bertumbuh yang berbeda.

3. Di Balik Kesibukan, Ada Lelah yang Jarang Terlihat

Dari luar, mahasiswa yang aktif terlihat hebat. Jadwalnya penuh. Kegiatannya banyak. Namanya sering disebut. Fotonya sering muncul. Prestasinya terlihat menonjol.

Namun di balik itu semua, ada lelah yang sering tidak dibicarakan. Lelah bangun pagi demi rapat. Lelah pulang malam dari kegiatan. Lelah membagi waktu antara kuliah, organisasi, tugas, dan kehidupan pribadi.

Lettavers, tidak semua yang terlihat sibuk itu bahagia. Tidak semua yang terlihat aktif itu baik baik saja. Banyak yang tersenyum di luar, tetapi kelelahan di dalam.

4. Takut Dianggap Malas Jika Memilih Diam

Salah satu alasan terbesar kenapa banyak mahasiswa terus memaksakan diri untuk aktif adalah rasa takut. Takut dianggap malas. Takut dianggap tidak berkembang. Takut dianggap membuang waktu. Takut dianggap tidak punya masa depan.

Akhirnya, meski tubuh sudah lelah, kita tetap memaksakan diri hadir. Meski hati sudah jenuh, kita tetap memaksa tersenyum. Meski kepala sudah penuh, kita tetap berkata iya pada kegiatan berikutnya.

Lettavers, ketakutan ini membuat banyak dari kita lupa cara untuk jujur pada kondisi diri sendiri.

5. Kuliah yang Seharusnya Tentang Belajar, Tapi Terasa Seperti Ajang Pembuktian

Pada akhirnya, banyak mahasiswa yang merasa kuliah bukan lagi tentang belajar, tetapi tentang pembuktian. Pembuktian bahwa kita aktif. Pembuktian bahwa kita tidak kalah dari yang lain. Pembuktian bahwa kita layak dibanggakan.

Kita mulai mengukur diri dari hal hal yang terlihat. Dari jumlah kegiatan. Dari jabatan yang dipegang. Dari sertifikat yang dikumpulkan. Dari seberapa sering nama kita disebut.

Lettavers, ketika kuliah berubah menjadi ajang pembuktian, kita perlahan kehilangan makna awal mengapa kita masuk dunia ini.

6. Kelelahan yang Berlapis antara Akademik dan Non Akademik

Menjadi mahasiswa aktif berarti menanggung dua dunia sekaligus. Dunia akademik dengan tugas, ujian, presentasi, dan penelitian. Dunia non akademik dengan rapat, program kerja, kepanitiaan, dan konflik internal organisasi.

Keduanya sama sama menguras energi. Ketika salah satunya padat, yang lain sering ikut terbengkalai. Banyak mahasiswa yang harus memilih antara menyelesaikan tugas atau hadir di rapat. Antara menjaga nilai atau menjaga komitmen organisasi.

Lettavers, kelelahan ini tidak selalu terlihat dari luar, tetapi sangat terasa di dalam.

7. Identitas Diri yang Mulai Terikat pada Kesibukan

Pelan pelan, banyak mahasiswa mulai merasa bahwa nilai dirinya melekat pada kesibukan. Mereka merasa berharga ketika sibuk. Merasa berarti ketika dibutuhkan. Merasa ada ketika diajak terus menerus.

Sebaliknya, ketika tidak ada kegiatan, muncul rasa kosong. Rasa tidak berguna. Rasa seolah hidupnya sedang stagnan.

Lettavers, ini berbahaya karena nilai diri kita seharusnya tidak ditentukan oleh seberapa padat jadwal kita, tetapi oleh siapa kita sebagai manusia.

8. Tidak Semua Orang Kuat di Ritme yang Sama

Ada mahasiswa yang memang menikmati kehidupan aktif. Mereka punya energi besar. Mereka suka keramaian. Mereka kuat dengan ritme cepat. Dan itu tidak salah.

Namun ada juga mahasiswa yang lebih tenang. Lebih nyaman dengan sedikit kegiatan. Lebih menikmati proses yang pelan. Lebih suka bekerja di balik layar. Dan itu juga tidak salah.

Masalahnya, budaya kampus sering lebih memuja yang terlihat aktif di depan. Yang tenang dan bekerja dalam senyap sering tidak dianggap.

Lettavers, padahal setiap ritme punya nilai yang sama berharganya.

9. Burnout yang Sering Dianggap Lemah

Ketika kelelahan sudah mencapai titik tertentu, banyak mahasiswa mengalami burnout. Hilang semangat. Mudah lelah. Mudah marah. Kehilangan minat bahkan pada hal yang dulu disukai.

Sayangnya, burnout sering dianggap sebagai tanda kelemahan. Seolah olah kita kurang kuat. Kurang tahan banting. Kurang niat.

Padahal burnout bukan tanda malas. Ia tanda bahwa tubuh dan pikiran sudah terlalu lama dipaksa tanpa jeda.

Lettavers, mengakui lelah bukan berarti menyerah. Itu bisa jadi tanda bahwa kita sedang berusaha menjaga diri sendiri.

10. Aktif Itu Baik, Tapi Memilih Diri Sendiri Jauh Lebih Penting

Aktif di kampus memang bisa membuka banyak peluang. Kita belajar bekerja sama. Kita belajar memimpin. Kita belajar berkomunikasi. Kita belajar menghadapi konflik. Semua itu berharga.

Namun aktif tidak seharusnya mengorbankan kesehatan mental, kebahagiaan, dan keutuhan diri kita sebagai manusia. Kita berhak memilih batas. Kita berhak berkata cukup. Kita berhak berkata tidak.

Lettavers, hidupmu bukan lomba siapa yang paling sibuk. Hidupmu adalah perjalanan untuk menjadi versi dirimu yang utuh, bukan yang paling lelah.


Capek jadi mahasiswa yang harus aktif terus adalah rasa yang nyata, meski jarang dibicarakan dengan jujur. Banyak dari kita yang tersenyum di tengah kesibukan, tetapi menyimpan lelah sendirian. Banyak dari kita yang terlihat kuat, tetapi sebenarnya sedang kehabisan tenaga.

Lettavers, kamu tidak gagal hanya karena memilih berhenti sejenak. Kamu tidak malas hanya karena ingin beristirahat. Kamu tidak kalah hanya karena tidak selalu tampil di depan.

Aktif itu bukan kewajiban mutlak. Yang jauh lebih penting adalah tetap utuh sebagai manusia. Tetap bisa merasa. Tetap bisa jujur pada diri sendiri. Tetap bisa bernapas tanpa dikejar tuntutan yang tidak ada habisnya.

Kalau hari ini kamu sedang lelah dengan semua kegiatanmu, semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat bahwa kamu boleh berhenti sebentar. Dunia tidak akan runtuh hanya karena kamu memilih untuk beristirahat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Capek Jadi Mahasiswa yang “Harus” Aktif Terus"

Posting Komentar