“Aku Takut Tidak Jadi Apa apa”: Rasa yang Jarang Diomongin tapi Sering Dirasakan
Hai Lettavers!
Pernah tidak sih kamu tiba tiba kepikiran, entah pas mau tidur, pas naik motor sendirian, atau pas lagi bengong di kelas, “Nanti aku bakal jadi apa ya? Jangan jangan aku tidak jadi apa apa dalam hidup ini…”
Kalimat itu mungkin tidak selalu kamu ucapkan keras keras, tapi dia sering muncul pelan pelan di kepala. Kadang datangnya setelah lihat orang lain sukses. Kadang setelah dapat nilai yang tidak sesuai harapan. Kadang setelah merasa gagal berkali kali. Rasa takut “tidak jadi apa apa” ini sebenarnya sangat umum, tapi jarang dibicarakan secara jujur. Orang lebih sering cerita soal pencapaiannya daripada soal ketakutannya.
Di Letta Library ini, aku ingin kita ngobrol pelan pelan tentang rasa itu. Bukan buat menghilangkannya secara paksa, tapi untuk mengenalinya, memahaminya, dan pelan pelan belajar berdamai.
1. Dari Mana Datangnya Takut “Tidak Jadi Apa apa”?
Lettavers, sebelum kita buru buru bilang ke diri sendiri “Ah lebay, kok takut begitu”, ada baiknya kita tanya dulu: rasa takut ini datangnya dari mana?
Sering kali, sumbernya bukan cuma satu. Bisa jadi campuran dari:
Pertama, ada standar yang kita pegang sejak kecil. Mungkin dari keluarga, lingkungan, atau sekolah. Sejak SD, SMP, SMA, mungkin kamu sering dengar kalimat seperti, “Kamu harus sukses ya”, “Jangan sampai kalah sama yang lain”, atau “Nanti kalau kamu malas, kamu tidak akan jadi apa apa”. Niatnya mungkin untuk memotivasi, tapi kadang yang nempel di kepala justru rasa takut.
Kedua, kita hidup di zaman di mana “nilai diri” sering diukur dari pencapaian yang kelihatan. IPK, sertifikat, organisasi, lomba, magang, prestasi. Tidak salah, semua itu baik dan penting. Tapi kalau kita terlalu mengikat harga diri ke hal hal itu saja, kita jadi gampang goyah. Begitu tidak punya pencapaian yang “wah”, langsung muncul perasaan, “Aduh, aku ini siapa sih, kok kayak tidak ada apa apanya.”
Ketiga, perbandingan tanpa henti. Media sosial membuat hidup orang lain terasa sangat dekat dengan mata kita. Setiap hari lihat orang cerita soal kerjaan, prestasi, bisnis, study abroad, dan macam macam hal lain. Lama lama, standar “normal” di kepala kita bergeser. Rasanya semua orang sudah keren, sedangkan kita masih bingung. Dari situ, rasa takut “tidak jadi apa apa” pelan pelan muncul dan mengendap.
Jadi, kalau kamu pernah punya pikiran itu, kamu tidak aneh, kok. Kamu hanya manusia yang hidup di zaman yang penuh ekspektasi. Wajar kalau kadang kamu lelah.
2. “Tidak Jadi Apa apa” Itu Sebenarnya Maksudnya Apa?
Kalimat “Aku takut tidak jadi apa apa” terdengar berat. Tapi kalau kita bedah, sebenarnya apa yang kita maksud dengan “tidak jadi apa apa”?
Apakah artinya:
-
Tidak punya gelar keren?
-
Tidak punya pekerjaan dengan gaji besar?
-
Tidak dikenal banyak orang?
-
Tidak punya pencapaian yang bisa diceritakan?
Atau apakah sebenarnya artinya lebih dalam lagi:
-
Takut tidak berguna untuk orang tua dan keluarga?
-
Takut tidak bisa membanggakan orang yang kita sayang?
-
Takut hidup terasa biasa biasa saja dan dilupakan begitu saja?
Sering kali, “tidak jadi apa apa” sebenarnya adalah rasa takut kalau hidup kita tidak berarti. Takut kalau kehadiran kita tidak memberi dampak apa pun. Takut kalau suatu hari nanti kita menoleh ke belakang dan merasa, “Kok hidupku gini gini saja, ya?”
Padahal, ukurannya tidak sesederhana itu. Menjadi “sesuatu” tidak harus selalu diukur dari jabatan, uang, atau pengakuan. Kadang, jadi orang yang bisa hadir untuk teman saat mereka sedih pun sudah berarti. Jadi anak yang terus berusaha walaupun sering lelah juga berarti. Jadi manusia yang tidak sempurna, tapi mau belajar, itu juga “jadi sesuatu”.
Masalahnya, hal hal yang pelan, sederhana, dan manusiawi seperti ini jarang dihitung sebagai “pencapaian”. Padahal, justru di situlah banyak nilai hidupmu bersembunyi.
3. Bedakan Antara Takut Gagal dan Takut Tidak Diakui
Rasa “takut tidak jadi apa apa” sering bercampur antara takut gagal dan takut tidak diakui. Keduanya mirip, tetapi tidak sama.
Takut gagal biasanya muncul karena kamu punya tujuan, tapi ragu apakah kamu mampu mencapainya. Misalnya, kamu ingin lulus tepat waktu, ingin kerja di bidang tertentu, ingin lanjut S2. Kamu takut tidak sanggup mengikuti prosesnya, takut kalau hasilnya tidak sesuai harapan.
Sedangkan takut tidak diakui lebih ke arah takut tidak dianggap berhasil oleh orang lain. Takut dicap “biasa saja”, “biasa banget”, atau “gitu doang”. Kalau ditarik lagi, kadang kita lebih takut dinilai orang lain daripada takut menghadapi proses itu sendiri.
Mengenali bedanya penting, karena cara menghadapinya juga beda.
Kalau kamu lebih takut gagal, kamu bisa fokus belajar pelan pelan, mencari bantuan, memperkuat kemampuan, dan memberi ruang untuk dirimu mencoba berkali kali.
Kalau kamu lebih takut tidak diakui, mungkin kamu perlu berhenti sebentar dan tanya, “Sebenarnya aku hidup untuk siapa?” Bukan berarti pendapat orang lain sama sekali tidak penting, tapi kalau seluruh arah hidupmu ditentukan semata mata untuk membuat orang lain kagum, kamu akan sangat mudah patah ketika pujian itu tidak datang.
Di titik ini, kamu boleh, kok, mulai berani memindahkan pusat hidupmu. Dari yang tadinya “Aku harus terlihat hebat di mata mereka”, pelan pelan jadi, “Aku ingin jadi versi terbaik dari diriku sendiri, meski tidak banyak orang yang melihat”.
4. Kamu Sudah Lebih “Jadi Sesuatu” daripada yang Kamu Kira
Lettavers, coba kita lihat dari sudut yang lain. Ketika kamu bilang “Aku takut tidak jadi apa apa”, mungkin kamu sedang melupakan bahwa kamu sebenarnya sudah menjadi seseorang untuk beberapa orang di sekitarmu.
Mungkin kamu adalah anak yang membuat orang tuamu tetap semangat bekerja dan berdoa setiap hari. Meski kamu merasa belum memberi apa apa, mereka mungkin sudah bangga hanya karena kamu berusaha.
Mungkin kamu adalah teman yang mengangkat chat orang di saat mereka lagi tidak baik baik saja. Satu kalimatmu, satu emotikon lucu, atau satu candaanmu mungkin pernah menyelamatkan seseorang dari hari yang terasa sangat berat.
Mungkin kamu adalah kakak, adik, atau sepupu yang diam diam dijadikan panutan. Cara kamu belajar, cara kamu menghadapi masalah, cara kamu bangkit lagi setelah kecewa, bisa jadi diam diam dilihat dan dikagumi oleh orang lain tanpa kamu tahu.
Mungkin kamu pernah melakukan hal hal kecil yang menurutmu tidak penting, tapi sangat berarti untuk orang lain. Mengajarkan materi pelajaran pada teman, membantu tetangga, menjadi pendengar yang sabar, atau bahkan sekadar hadir.
Hal hal seperti ini tidak akan masuk CV, tidak diupload di LinkedIn, tidak selalu muncul di story, tapi bukan berarti nilainya kecil.
Jadi, sebelum kamu menjatuhkan vonis pada dirimu dengan kalimat “Aku tidak jadi apa apa”, coba ingat bahwa menjadi sesuatu tidak selalu harus besar. Kadang, menjadi seseorang yang tetap berusaha di tengah rasa takut dan lelah saja sudah sangat berharga.
5. Rasa Takut Ini Tidak Perlu Diusir, Tapi Bisa Dijadikan Pengingat
Menariknya, rasa takut “tidak jadi apa apa” tidak selalu buruk. Rasa itu bisa berubah menjadi pengingat halus bahwa kamu peduli dengan hidupmu. Kamu ingin hidupmu berarti. Kamu ingin melakukan sesuatu. Kamu tidak mau hidup sekadar lewat saja.
Yang membuat rasa itu menyakitkan adalah ketika dia dibiarkan tumbuh liar tanpa arah. Ia berubah menjadi suara yang terus menerus mengkritik, bukan mengingatkan.
Daripada memaksa mengusir rasa takut itu, kamu bisa mencoba berdialog dengannya. Kamu bisa bertanya pada diri sendiri:
Dengan cara ini, rasa takutmu tidak lagi hanya menjadi beban, tapi bisa perlahan berubah menjadi bahan bakar. Bukan bahan bakar untuk mengejar pengakuan orang lain, tapi untuk membangun hidup yang menurutmu punya makna.
6. Langkah Kecil Saat Kamu Lagi Takut “Tidak Jadi Apa apa”
Sekarang, pertanyaannya: kalau rasa takut itu datang, kamu bisa apa? Kamu tidak perlu langsung merancang rencana hidup super detail. Justru, terlalu banyak rencana bisa bikin makin pusing.
Ada beberapa langkah kecil yang bisa kamu coba:
Kamu Itu “Sesuatu”, Bahkan Saat Kamu Merasa Biasa Saja
Lettavers, mungkin kamu belum jadi sosok yang kamu impikan. Mungkin kamu belum sampai di titik yang kamu bayangkan. Tapi bukan berarti di titik sekarang kamu bukan siapa siapa.
Kamu tidak harus menunggu sampai punya gelar, jabatan, atau prestasi untuk menganggap dirimu “jadi sesuatu”. Kamu sudah “jadi” sejak kamu berusaha untuk hidup dengan cara yang jujur, bertahan, dan mau terus memperbaiki diri.
Di Letta Library ini, aku ingin kamu tahu bahwa rasa takut “tidak jadi apa apa” bukan sesuatu yang perlu kamu simpan sendirian. Banyak dari kita merasakannya, meski jarang diomongin. Pelan pelan, kita bisa belajar bahwa hidup bukan tentang menjadi “yang paling hebat”, tapi tentang menjadi diri sendiri yang mau terus bertumbuh, dengan cara dan ritmemu sendiri.
Jadi, kalau lain kali suara di dalam kepalamu berkata, “Aku takut tidak jadi apa apa”, kamu boleh menjawab pelan pelan, “Aku memang belum selesai, tapi aku sedang dalam proses. Dan proses itu juga berharga.”

0 Response to "“Aku Takut Tidak Jadi Apa apa”: Rasa yang Jarang Diomongin tapi Sering Dirasakan"
Posting Komentar